Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Membunuh UUDUUD 1945, Mengubur Pancasila!

Rusman

Rusman·26 Februari 2024·4 menit baca

Bagikan
Membunuh UUD 1945, Mengubur Pancasila!
Tafsir dan pointers tulisan Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri berjudul: ‘Beramai – ramai Membunuh Kebenaran, Agar Bersama-sama Hidup dalam Aib’, niscaya relevan hingga kapanpun. Pesan moral yang disampaikan, mungkin pas untuk memotret situasi dan kondisi yang tengah dihadapi oleh bangsa ini dalam lingkup besar.
Substansi tulisan Pak Kiki begini:
Tatkala pasukan lawan memasuki kampung, ada satu perempuan berani melawan saat ia mau diperkosa oleh tentara musuh. Bahkan, tentara yang hendak memperkosa pun dibunuhnya, “Bagiku hanya ada satu jalan keluar, berjuang membela diri atau mati dalam menjaga kehormatan!” Kata wanita perkasa itu.
Namun, sungguh celaka. Sosok perkasa itu justru dibunuh beramai-ramai oleh wanita-wanita lainnya —para pecundang— sedang mereka tak melawan ketika tentara musuh merudapaksa kehormatannya.
Motif pembunuhan terhadap perempuan perkasa tersebut, tak lain — rasa khawatir jika para suami bertanya, “Mengapa kalian tidak membela diri seperti wanita itu, bukankah lebih baik mati daripada hidup ternoda, tanpa kehormatan?”
Nah, potret hitam atas motif pembunuhan tersebut, bahwa kaum pecundang sengaja membunuh kebenaran agar dapat bertahan hidup dalam aib, serta dalam fatamorgana bersama. Itu poinnya.
Analogi cerita singkat di atas, bila ditarik ke level lebih tinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama ketika UUD 1945 diamandemen (1999-2002) oleh kelompok reformis gadungan (kaum neoliberal alias neolib), ada benang merah kemiripan narasi, apa itu?
Segelintir neolib telah ‘membunuh’ UUD 1945 Naskah Asli rumusan Pendiri Bangsa (the Founding Fathers) dengan modus mengganti 97% pasal-pasal di Batang Tubuh UUD 1945, lalu ‘mengubur’ Pancasila yang termuat dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD.
Sejak diamandemen, praktik keduanya (Pembukaan dan Batang Tubuh) selain tak nyambung, juga mengubah wajah konstitusi menjadi liberal, individualis dan kapitalistik. Uraian ini bukanlah karangan bebas atau opini penulis, tetapi bersumber dari poin kajian Laboratorium Pancasila UGM, Jogja, oleh Prof Kaelan dkk.
Maka, sebagaimana motif para (perempuan) pecundang yang membunuh wanita perkasa agar mereka bertahan hidup dalam aib dan fatamorgana. Pun demikian dengan bangsa ini. Memang analogi ini agak lebay. Namun, sekali lagi, usai UUD 1945 karya the Founding Fathers dibunuh oleh kaum neolib, lalu mengubur Pancasila dalam praktik bernegara, bangsa ini seperti hidup dalam ‘aib’. Penuh cela, noda, gaduh, salah dan keliru. Mengapa? Sebab, kita menjalankan UUD liberal yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa. Tak selaras dengan nilai musyawarah, gotong royong, guyub dan seterusnya warisan leluhur.
Sudah tentu, UUD liberal membidani turunan yang liberal pula, contoh, demokrasi ala Barat (one man one vote) dijalankan justru menimbulkan perpecahan di berbagai lapis sosial; demokrasi liberal itu sarat kecurangan karena orientasinya banyak-banyakan suara; merebak money politic guna menjaring suara; framing media; fabrikasi isu; industri pencitraan tumbuh subur, sementara pencitraan itu sendiri tak nyata, hanya realitas semu, dan lain-lain.
Contoh konkrit lain yang melenceng jauh dari rumusan Pendiri Bangsa, misalnya, Pasal 33 ayat (3) UUD 1945: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya DIKUASAI oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Nah, pasal tersebut — oleh kaum neolib ditambah dengan ayat (4) dan ayat (5) dimana kedua ayat tambahan itu justru menganulir ayat (3). Hal ini identik dengan ‘mematikan’ ayat (3) alias membunuhnya.
Ayat (4) berbunyi:
“Perekonomian nasional DISELENGGARAKAN berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional”.
Ayat (5):
“Ketentuan lebih lanjut mengenai pasal ini diatur dalam Undang-Undang”.
Lantas, praktik penyimpangannya dimana?
Ya. Perekonomian nasional kini diserahkan kepada pasar bebas. Survival of the fittest. “Siapa yang paling kuat dan cepat melakukan adaptasi, ia mampu bertahan hidup”.
Nah, di sini (pada ayat 4), NEGARA TIDAK HADIR. Sebab, hajat hidup orang banyak tidak lagi DIKUASAI oleh negara, tetapi DISELENGGARAKAN. Sontoloyo. Dari sisi bahasa saja sudah keliru. Mirip wedding party saja, diselenggarakan. Lho, memangnya diselenggarakan oleh siapa? Mungkin oleh panitia, atau EO (Event Organizer). Geblek!
Bagaimana mungkin, petani-petani kecil dan/atau UKM gurem misalnya, mampu bersaing dan berhadapan dengan korporasi global? Ibarat raksasa melawan liliput. Atau, Elly Pical versus Mike Tyson. Pical pasti Knock Out (KO). Tumbang. Dua kekeliruan menyeruak. Negara tidak hadir di satu sisi, sedang pada sisi lain, EO-nya ngawur!
Inilah yang kini berlangsung sejak konstitusi diamandemen empat kali (1999-2002). UUD 1945 rumusan the Founding Fathers dibunuh, lalu Pancasila sebagai Norma Hukum Tertinggi dikubur dalam-dalam. Silakan cermati keluhan Buya Syafii Maarif (almarhum) tentang Pancasila:
“Pancasila dimuliakan dalam kata, diagungkan dalam tulisan, namun dikhianati dalam perbuatan”.
Entah kapan keduanya dihidupkan lagi oleh segenap anak bangsa. Digali kembali serta dipraktikkan secara murni dan konsekuen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menggali Pancasila yang telah dikubur oleh kaum neolib, artinya mengembalikan lagi marwah kedaulatannya. Sebab, jika Pancasila berdaulat, bangsa akan selamat. Sebaliknya, apabila Pancasila tidak berdaulat, bangsa tak akan selamat. Itu kuncinya.
Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam.
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaTerkait BRICS, Politik Luar Negeri Bebas-Aktif Mensyaratkan Adanya KemandirianSelanjutnyaDari FGD Indonesia Consulting Group (ICG): Sepakat BRICS Subjek Kajian Strategis Untuk Terus Ditelaah Secara Lebih Luas Dari Segi Politik, Ekonomi dan Militer

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents