Menelisik Konstelasi Politik di Timur Tengah

Bagikan artikel ini

Tak bisa dipungkiri, ada dua negeri kuat yang kebetulan sepaham dengan poros muqawamah saat ini, namun punya hubungan ‘spesial’ dengan Israel.

Rusia dan China, punya kedekatan tertentu, kalau tidak mau dibilang bersahabat baik dengan rezim Tel Aviv.

Naluri kegoblokan dan insting egosentris saya selalu meledak marah, terpecah dalam realita antara menganggap mereka sebagai kolaborator zionis, atau rekan setia muqawamah saat melihat sepak terjangnya di Syria.

Bagaimana masuk di akal, negara yang kini habis-habisan membantu Syria – yang kental dengan sikap anti-zionis – namun menjalin hubungan mesra dengan dalang teror itu sendiri?

Haruskah saya bertahan membabi-buta dengan sikap ‘either you with us, or against us’?

Sayangnya, tidak ada tempat untuk kejumudan dan manuver kaku, terutama dalam politik. Kadang, saya mulai meyakini betapa Gus Dur, dalam beberapa sikap politiknya, terlalu advanced untuk jamannya. Termasuk otak saya.

Perseteruan Qatar dan Saudi, membuka banyak hal yang kemarin cukup membingungkan saya.

Dari sikap Rusia yang lembek saat jet tempurnya ditembak Turki di Latakia. Dari Iran yang mendekati Turki, bahkan memberi ucapan dukungan kepada Erdogan dalam kudeta yang gagal kemarin. Hingga hadiah S400 pada Ankara, meski duta besar Rusia terbunuh di Turki.

Dari kesepakatan basis militer China di Pakistan yang mengejutkan. Dari penjualan S400 ke negeri Bollywood yang mengidolakan Israel, namun di saat yang sama Syria dan Iran hanya mendapat jatah S300, termasuk keterlambatan 10 tahun pengantaran milik Tehran. Hingga berdiam dirinya S400 di Tartus dan Hmeymim setiap kali jet Israel nyelonong ke Damaskus.

Rusia, China dan Iran, benar-benar bermain ‘by the book’ dalam pertarungan geopolitik pasca Libya. Washington, menghancurkan Libya dengan mengangkangi PBB dan beralas NATO. Dan tanpa bermain di ‘arena’ yang sama, hegemoni AS akan semakin tak terbendung.

Kesepakatan nuklir Iran dengan P5+1 merupakan titik balik model politik yang diusung poros muqawamah. Rusia, menyambut baik inisiasi Tehran, karena meski memiliki hak veto, Moskow selama ini sendirian dalam pertarungan diplomasi.

Undangan resmi untuk melibatkan diri di Syria dari pemerintahan Assad, seperti ke Iran sebelumnya, menjadi titik balik konflik di Syria. No-fly-zone gagal diwujudkan AS, dan pendekatan simultan Tehran + Moskow ke Ankara, perlahan membuat peta pertempuran di Syria berubah.

Jangan salah, Erdogan masih memimpikan Ottoman Baru terwujud di Syria. Namun Putin membawa pesan penting, yang sepertinya dipahami dengan baik oleh Erdogan. Bukan soal keagungan masa lalu, karena kini Ankara punya masalah yang lebih besar. Kurdistan.

Euforia Saudi dalam mengobarkan perang ke Libya dan Syria, membuat mereka besar kepala, dan ingin show-off dengan menginvasi Yaman. Terbukti, inilah kesalahan paling fatal putra Salman yang ambisius itu.

Dalam tempo beberapa tahun saja, foreign reserve yang dimiliki oleh Saudi dan Qatar, hampir habis untuk membiayai ‘perang’ mereka masing-masing. Celakanya, di seluruh tempat yang mereka ganggu, konflik tak kunjung mereda, dan otomatis, pembiayaan menjadi semakin berat dipikul.

Saudi, memutuskan untuk keliling dunia dan berinvestasi ke banyak negara. Harapan mereka, investasi-investasi tersebut akan membantu menopang mereka saat tabungan sudah habis, dan minyak menipis. China, menerima tawaran Salman dengan tangan terbuka.

Qatar, cepat menyadari hal ini dan mencoba membangun hubungan dengan Iran. Bermodal keberhasilan mereka melunakkan Ankara, Tehran mengulurkan tangan sebagai respon. Tamim menganggap Saudi tak lagi pantas menjadi pimpinan klan, dan berupaya untuk melengserkannya, sehalus mungkin.

Manuver ini membuat Saudi, AS dan Israel naik pitam. Konflik Saudi – Qatar yang sering terjadi sebelumnya, dan selalu bisa di’damai’kan, dipanasi dengan membabi-buta oleh Neocon. Gas milik Qatar, bisa menjadi penopang tambahan kehidupan Saud. Ditambah lagi keinginan Qatar untuk ‘independen’, merupakan dosa besar di mata Salman.

UEA punya masalah pribadi dengan Qatar melalui proksi mereka di Libya. Mesir punya dendam soal bantuan Qatar yang beku sejak Mursi tumbang. Saudi butuh sumber pendapatan baru, dan kepastian hegemoni singgasananya dalam klan perkumpulannya sendiri.

Praktis, permainan catur kelas dewa ini begitu lihai terlihat korelasinya sejak Saudi berseteru secara terbuka dengan Doha. Komitmen dan dukungan Iran pada Qatar membuat peta proksi di Syria goyah, hingga Tahrir al-Sham terpecah dalam menyikapi dukungan Joulani pada Tamim.

Kiriman bahan makanan skala besar dari Rusia sudah sampai di Qatar tanpa banyak keributan di media. Turki – yang sudah dilengkapi S400 – bertekad mengirimkan pasukannya untuk antisipasi invasi Saudi. Pakistan mengumumkan berpihak dengan Qatar dalam perseteruan ini, dengan China bersiap membangun pangkalan militer di situ.

Jedeeer…

Langkah selanjutnya kini terletak pada klan Saudi, AS dan Israel untuk merespon rencana busuk yang makan tuan. Rusia dan Iran – serta dalam taraf yang lebih ringan – China, sudah empat-lima langkah di depan menyiapkan jawaban atas skenario neocon.

Putin, kini menjadi master baru permainan geopolitik yang begitu rumit dan saling-telikung, meski disisipi jabat tangan dan gelak tawa. Seperti saat bersama Setanyahu.

Namun Setanyahu, kini adalah pihak yang menjadi bulan-bulanan keramahtamahan Moskow. Senyum boleh lebar, tapi rencana zionis malah carut-marut dan susah wujud gegara manuver Kremlin.

Kepandaian dan kemampuannya membaca situasi dan menahan diri, tentu berasal dari bakat dan skill yang terus menerus diasah dari peliknya situasi Uni Soviet dengan dunia internasional kala ia masih muda.

Namun, sekali waktu, Putin pernah berkata, ‘ketika aku melihat beliau, aku seperti melihat Yesus.’

Ia tahu betul, sepandai-pandainya ia, masih ada yang jauh lebih superior darinya.

Tahukah engkau siapa dia?

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com