Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Para Investor Nikel AS-Eropa Menghalangi Pengembangan Ekspor NikelEkspor Nikel Berbentuk Bahan Olahan di Indonesia

Hendrajit

Hendrajit·15 Agustus 2023·4 menit baca

Bagikan
Para Investor Nikel AS-Eropa Menghalangi Pengembangan Ekspor Nikel Berbentuk Bahan Olahan di Indonesia

Belakangan ini kontroversi tentang industri nikel ramai jadi bahan perbincangan berbagai “pemangku kepentingan” industri pertambangan. Hanya sayangnya, diskursus ihwal strategi pengembangan industri nikel di Indonesia di dalam negeri berbasis alih teknologi dari negara-negara maju, sepertinya malah tidak diperbincangkan secara serius. Negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat nampaknya berkeberatan Indonesia mengolah industri nikelnya di dalam negeri lantaran dipandang sebagai potensi ancaman bagi hegenomoni global negara-negara maju di bidang pertambangan khususnya nikel.

Selain itu, negara-negara Barat baik AS maupun Eropa Barat melalui agen-agen proxy-nya menggulirkan secara terus-menerus isu environmental, social and governance (ESG) untuk membangun citra bahwa para pengusaha Indonesia yang bergerak di bisnis nikel telah merusak lingkungan hidup.

 

SpaceX's Elon Musk gives an update on the company's Mars rocket Starship in Boca Chica

 

Hal itu bukan mengada-ngada. Seperti dilansir kantor berita Reuters pada 26 Juli 2021 lalu, beberapa lembaga swadaya masyarakat (non-Governmental Organizations/NGOs) telah mengirim surat terbuka kepada Elon Musk, CEO the Tesla Inc (TSL:A.O) agar supaya tidak melakukan investasi dalam industri nikel di Indonesia dengan alasan tidak ramah lingkungan. Menariknya, surat terbuka beberapa LSM tersebut ikut serta di dalamnya selain Friend of Eart dari AS juga ikut serta beberapa LSM  bersama Presiden Indonesia Joko Widodo ketika bertemu dengan Elon Musk di Texas, membahas potensi investasi dalam bidang industri nikel di Indonesia. Bisa dimengerti jika pemerintah Indonesia menaruh minat besar untuk pengembangan industri nikel dalam negeri alih-alih sekadar sebagai pengekspor dalam bentuk bahan mentah nikel ke luar negeri.

Baca:

NGOs ask Musk to not invest in Indonesia’s nickel industry over environmental worries

 

Menurut informasi yang dihimpun tim riset Global Future Institute, nilai ekspor nikel mentah per tahunnya sebesar Rp 17 triliun. Namun ekspor yang sudah diolah menjadi beragam produk maka nilai ekspornya meningkat tajam  sebesar Rp 510 triliun per tahun.

Dalam konteks inilah maka konsep downstreaming hilirisasi industri nikel yang digulirkan Presiden Joko Widodo menjadi menarik untuk diulas secara lebih mendalam. Sebab dengan demikian, hilirisasi produk nikel hasil olahan yang diekspor ternyata menghasilkan keuntungan  jauh lebih besar bagi negara kita dibandingkan  dengan ekspor produk dalam bentuk bahan mentah.

Baca juga:

Presiden Jokowi Tegaskan Pemerintah Tidak Akan Hentikan Hilirisasi Industri

Namun pada tataran inilah, negara-negara maju (AS dan blok Barat) maupun beberapa pelaku bisnis di sektor pertambangan di dalam negeri, sepertinya tidak tertarik ketika diajak membahas berbagai kemungkinan untuk pengembangan industri nikel Indonesia yang berbasis alih-teknologi dari negara-negara maju seperti AS maupun beberapa negara Eropa Barat. AS maupun beberapa negara Eropa Barat yang tergabung dalam Uni Eropa maupun G-7, tidak punya itikad baik untuk mengembangkan kerjasama strategis yang saling munguntungkan dan setara dengan negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. AS dan Eropa Barat lebih suka untuk mempertahankan skema ekspor nikel produk berbentuk bahan mentah alih-alih hilirisasi produk nikel hasil olahan yang diekspor.

Selain itu, AS-Eropa juga tidak tertarik membantu Indonesia dan juga negara-negara sedang berkembang pada umumnya dalam  bidang alih teknologi. Lantaran negara-negara maju tersebut tetap berkeinginan agar Indonesia dan negara-negara berkembang tergantung pada negara-negara maju baik di bidang industri maupun ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kata lain, AS-Eropa tidak ingin Indonesia mandiri dan berjaya di bidang industri pertambangan utamanya di industri nikel.

Dari sini nampak jelas bahwa Skema Penjajahan Gaya Baru berbasis korporasi global ala VOC pada zaman penjajahan klasik yang dikembangkan AS maupun Eropa Barat, masih tetap berlangsung hingga kini.

Maka itu tidak mengejutkan jika AS dan blok Barat kemudian mengkampanyekan bahayanya perusakan lingkungan hidup ketika Indonesia mengembangkan produksi industri nikel di dalam negeri. Hal tersebut terbukti ketika beberapa NGOs mendesak agar Indonesia menghentikan rencana potential direct investment dalam bidang industri nikel di Indonesia, apalagi dalam menjalin kerjasama yang selaras dengan skema bisnis Tesla.

Bagi AS dan negara-negara Eropa Barat yang sudah menjadi pemain yang dominan dalam bidang industri nikel, menyadari betul cadangan nikel Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Sehingga ada kepentingan statusquo AS-Eropa Barat untuk menghalangi Indonesia memproduksi industri nikelnya berskala besar. Sebagaimana keluhan beberapa pengusaha nikel yang tergabung dalam Asosiasi Penambangan Nikel Indonesia (APNI), para pengusaha nikel Indonesia selalu menghadapi  tentangan keras dari para investor nikel dari AS-Eropa.

Padahal menurut para pelaku bisnis yang bergerak di bidang nikel yang tergabung dalam APNI tersebut, kebutuhan nikel untuk fasilitas pengolahan di Indonesia semakin besar saat ini. Sampai hari ini, terdapat 53 smelter pirometalurgi (RKEF) dengan 179 tungku pembakaran (furnace) yang beroperasi di Indonesia. Dan 4 fasilitas hidrometalurgi (HPAL) di Indonesia.

179 tungku pembakaran  tahun ini membutuhkan 170 juta ton bijih nikel. Hal tersebut terjadi karena semakin besarnya tuntutan kebutuhan. Kalau pada tahun lalu masih ada illegal mining sekitar 30 persen, pada tahun ini sudah tidak ada lagi akibat gencarnya pembersihan praktek-praktek kolusi dan korupsi di sektor pertambangan. Atau terbongkarnya praktek-praktek kolutif di sektor pertambangan oleh berbagai media massa berpengaruh di Indonesia.

Hendrajit, pengkaji geopolitik, Global Future Institute

 

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaAda False Flag Di Atas False Flag OperationSelanjutnyaTelaah Strategis Di Balik Kunjungan Jokowi ke Cina

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents