Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Bedah Buku

Pasang Naik Kulit BerwarnaKulit Berwarna

Rusman

Rusman·7 Juni 2024·3 menit baca

Bagikan
Pasang Naik Kulit Berwarna

Masih dalam suasana peringatan ulang tahun Presiden pertama RI Soekarno tanggal 6 Juni, saya ingat salah satu buku lama yang sering dikutip Soekarno. Buku itu karya penulis Amerika Lothrop Stoddard, THE RISING TIDE OF COLOR, yang terbit satu abad lalu (1920).

Begitu berpengaruhnya buku itu bagi Soekarno, sehingga dia memprakarsai penerbitannya dalam bahasa Indonesia berjudul PASANG NAIK KULIT BERWARNA (terbit tahun 1966).

Bukan saja memprakarsai terjemahannya, Soekarno juga menulis Kata Pengantar. Bahkan Soekarno meminta ditambahkan satu bab baru dalam buku terjemahan ini. Judulnya “Pasang Naik Gerakan Nasional di Indonesia”.

Penulis buku, Lothorp Stoddard, jurnalis dan ilmuwan politik lulusan Universitas Harvard dan Boston adalah sosok kontroversial, seperti juga karya-karyanya yang menimbulkan debat pro-kontra. Dia pendukung paham “white supremacy“.

Pikiran-pikirannya yang disebut “pembenaran ilmiah” terhadap rasialisme, sering menjadi rujukan penting pada masa lalu.

Misalnya konsepnya tentang “Under-man” atau “Untermensch” menjadi referensi penting bagi kaum Nazi Jerman, yang mengunggulkan ras Aria dan anti Yahudi. Itu sebabnya sebuah jurnal Yahudi di Amerika menuduh Stoddard adalah anggota organisasi rasis Ku Klu Klan.

Sebenarnya judul lengkap dari bukunya di atas adalah The Rising Tide of Color AGAINTS WHITE WORLD SUPREMACY. Jadi fenomena “kebangkitan” itu dipahami sebagai ancaman terhadap supremasi kulit putih di dunia sejak dulu.

Stoddard memang pendukung supremasi kulit putih, anti percampuran ras untuk menjaga “kemurnian” ras kulit putih, bahkan pernah mengusulkan RUU anti-miscegenasi (kawin campur).

Stoddard menulis bukunya di atas berdasarkan kajiannya atas fenomena kebangkitan gerakan nasionalis di berbagai bagian dunia.

Tapi buku itu juga dilatarbelakangi kekhawatiran meningkatnya jumlah dan pengaruh penduduk kulit hitam dan berwarna lainnya di Amerika.

Stoddard mengkhawatirkan ancaman kebangkitan kulit berwarna terhadap dominasi kulit putih dalam kehidupan ekonomi dan politik.

Pikiran-pikiran Stoddard tentang soal ini dapat dibaca pada beberapa bukunya yang lain, salah satunya RACIAL REALITIES IN EUROPE (1924).

Tapi di balik pikiran-pikirannya yang rasialis, Stoddard sebenarnya mampu menganalisis secara tepat dua fenomena sosial penting, yang belum banyak disadari eksistensinya dan karena itu belum cukup dikaji oleh ilmuwan atau pemikir lainnya saat itu.

Pertama, fenomena bertambahnya jumlah populasi penduduk kulit hitam dan kaum migran non-Eropa lainnnya. Stoddard sudah memprediksi dampak dari fenomena ini terhadap supremasi kulit putih.

Kedua, fenomena kebangkitan gerakan-gerakan nasionalis di berbagai bagian dunia sejak awal awal abad 19. Termasuk juga gerakan nasionalis di Indonesia, yang hanya sekilas disinggung oleh Stoddard (itu sebabnya Soekarno menyuruh ditambahkan satu bab khusus tentang Indonesia dalam terjemahan Indonesia buku tersebut).

Sudah genap satu abad sejak buku Stoddard pertama kali diterbitkan (1920). Tapi apa yang dikaji dan diprediksi Stoddard satu abad lampau itu ternyata masih relevan.

Bahkan sebagian prediksinya tampak menjadi kenyataan, kalau kita hubungkan dengan akar persoalan di balik gelombang demonstrasi yang tengah melanda Amerika saat ini.

Ketika ilmuwan besar Samuel P. Huntington menerbitkan bukunya WHO ARE WE ? The Challenges to America’s National Identity (2004), atau Amy Chua dengan bukunya POLITICAL TRIBES: Group Instinc and The Fate of Nations (2018), keduanya seakan memperbarui atau sedang menyajikan pemutakhiran fakta dari fenomena lama yang sudah dikaji Stoddard satu abad lalu.

Banyak orang menuding sikap dan kebijakan Presiden Trump sebagai pemicu konflik rasial di Amerika saat ini. Untuk sebagian betul. Tapi sesungguhnya rasialisme adalah fenomena lama di Amerika (dan sebagian Eropa) yang setiap saat dapat muncul kembali ke permukaan. Kemunculannya memang dapat menjadi dahsyat, ketika yang memimpin negeri itu orang macam Trump. *

Manuel Kaisiepo, Mantan Wartawan Kompas dan Kolumnis

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaPerlu Strategi Membangun Hubungan RI-RRC Secara SeimbangSelanjutnyaYang Tersembunyi Di Balik Novel Umberto Eco, The Prague Cemetery

Lainnya di Bedah Buku

Lihat semua
Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
Bedah Buku

Ketika Artificial IntelligenceArtificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi

16 Agustus 2026 · 12 menit baca

Membaca “Defensive Nationalism” dalam Konteks Indonesia
Bedah Buku

Membaca “Defensive NationalismDefensive Nationalism” dalam Konteks Indonesia

12 Agustus 2026 · 8 menit baca

Mengapa Presiden Indonesia Terlihat Sangat Kuat, tetapi Selalu Harus Berkompromi?
Bedah Buku

Mengapa Presiden IndonesiaPresiden Indonesia Terlihat Sangat Kuat, tetapi Selalu Harus Berkompromi?

7 Agustus 2026 · 5 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents