Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Bedah Buku

Perlu Strategi Membangun Hubungan RI-RRCRI-RRC Secara Seimbang

Hendrajit

Hendrajit·10 November 2024·4 menit baca

Bagikan
Perlu Strategi Membangun Hubungan RI-RRC Secara Seimbang

Resensi buku “Rising China’s Soft Power in Southeast Asia, Impact On Education and Popular Culture”

(Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle)

Sekitar 6 milyar penonton Xianxia di Asia Tenggara, sebuah film homoseksual antara lelaki cantik yang diproduksi China untuk penetrasi kebudayaan di wilayah ini. Xianxia (hal. 128), berasal dari kata Shenxian dan Xia, berkisah tentang manusia yang mencapai kekuatan Tuhan atau kekal. Film seperti ini merupakan strategi baru yang diadopsi China dari Korea dan Jepang, untuk melengkapi penetrasi kebudayaan China melalui Wuxia, film-film bertema Kung Fu, yang dianggap hanya menyentuh sedikit kalangan masyarakat bawah saja. Kebanyakan penonton film-film China model Xianxia disebarkan melalui WeTV, Netflix, Astro Malaysia, dan lainnya.

Presiden Hu Jianto, 2017, (hal. 238), secara tegas menekankan pentingnya mempromosikan budaya populer China untuk mempengaruhi seluruh dunia. Xi Jinping sendiri, membuat perencanaan 5 tahunan untuk mendorong industri budaya China melalui berbagai sektor seperti percetakan, film, animasi, serial TV dan panggung hiburan.

China Soft Power adalah strategi baru China untuk melakukan hegemoni budaya terhadap bangsa lain. Joseph S. Nye, 1990, mengajukan konsep ini. Soft power merujuk pada kultur dan ekonomi. Menurut Nye, “Hard power is like brandishing carrots or sticks, soft power is more like a magnet”. (Hal. 15). Untuk itu China menginfiltrasi budaya mereka ke Asia Tenggara dengan mendirikan Confucian Institute (CIs) dan The  Overseas Chinese Affairs Office of State Council (ACAO). Tahun 2018 ACAO dikontrol langsung Sentral Komite Partai Komunis China, namun seiring negara mereka lebih kuat dari orang-orang China di perantauan, lembaga ini dilepaskan pada lembaga setingkat kementrian.

Infiltrasi budaya Cina tersebut dilakukan melalui penyebaran Bahasa Mandarin, kerjasama pendidikan dan seni kepada seluruh negara Asia Tenggara. Dibidang pendidikan, saat ini Indonesia telah mengirimkan lebih banyak pelajaran ke China dibandingkan dengan Amerika dan Australia.

Selain itu, Universitas China ekspansi keberbagai negara. Malaysia misalnya membangun Xiamen University Malaysia. Pada tahun 2023, dari 7000 mahasiswa terdapat 4109 orang Malaysia, 2200 orang China dan sisanya dari berbagai dunia lain. Selain itu China mengirimkan tenaga tenaga guru bahasa untuk menjadikan Bahasa Mandarin sebagai bahasa utama. Di Jawa Timur, pesantren Nurul Jadid, yang berafiliasi ke NU, merupakan salah satu networking penyebaran Bahasa Mandarin (hal. 161).

Pondok ini juga merupakan pionir dalam mengirimkan santri-santri belajar ke China. Klaim Hadist Rasulullah bahwa “Mencari Ilmu Sampai Ke Negeri China”, merupakan dasar ideologis untuk hal tersebut. Alumni santri dari sekolah ke China ini nantinya akan menjadi pembela keberadaan dan eksistensi China di Indonesia, khususnya (hal. 171).

Di Filipina, perasaan bangga telah belajar ke China oleh kalangan muda mereka diuraikan dalam bab 10 (hal. 181). Dalam sub judul “Assessment of China’s Soft Power Among China-Educated Filipinos“.  Filipina, diteliti bagaimana image orang-orang Filipina sebelum adanya kerjasama pendidikan China-Filipina dan setelahnya. Tahap pertama kerjasama dimulai dengan kerjasama universitas, yang dijembatani Confucius Institute, sebuah lembaga di bawah kementerian pendidikan China. Universitas Sun Yat Sen, Hanban University, Fujian University dan Xiamen University dari China bekerjasama dengan 4 universitas Filipina.

Pendidikan Bahasa Mandarin ditujukan awalnya kepada komunitas China-Filipina melalui the Philippines Chinese Education Research, baik di Filipina maupun ke China. Kerjasama ini selanjutnya memberikan kesempatan pada pelajaran Filipina studi di China. Hasil penelitian ini menunjukkan kebanggaan orang-orang Filipina atas China semakin tinggi.

Negara-negara Asia Tenggara lainnya juga mengalami penetrasi, seperti Thailand, Laos, Kamboja dan Vietnam. Namun, di masyarakat China Yunan Thailand  Utara, sekolah pro China Taiwan masih lebih dominan daripada pro China Peking. Sedangkan di Vietnam, kontrol Negara Komunis Vietnam atas dominasi kultural China dapat dikontrol. Khususnya, terkait hubungan politik Vietnam dengan China yang sering memanas.

Catatan:

  1. Pendekatan “Soft Power” melalui budaya, pendidikan, bahasa dan bantuan ekonomi telah membuat kehadiran China di Asia Tenggara tidak dapat terelakkan. Peningkatan kecintaan masyarakat kawasan Asia atas budaya China semakin besar, khususnya lagi setelah popular culture yang dilakukan menyentuh kalangan intelektual melalui film drama percintaan, bukan sekedar Kungfu.
  2. Dominasi budaya China di Indonesia telah berlangsung dalam. Pergeseran kecintaan masyarakat China Indonesia dan juga orang-orang asli Indonesia terhadap budaya China semakin tinggi. Ini ditunjukkan dengan pilihan pendidikan lanjutan ke China telah melampaui tujuan sebelumnya, yakni Amerika, Australia maupun eropa. Film-film asal China juga telah diterima dengan senang.

Soft power melalui pendidikan dan kebudayaan ini pada akhirnya akan lebih membuat Indonesia menjadi sub ordinat RRC ke depan. Hal ini terutama setelah ketergantungan politik dan dagang kita berkiblat ke sana.

  1. Persoalannya adalah bagaimana memitigasi resiko hubungan Indonesia dan China. Budaya Indonesia yang kurang jelas arah pembangunannya tidak akan mampu melindungi kebanggaan ke Indonesia an, jika dominasi dan hegemoni China tidak terbendung lagi.
  2. Untuk itu, “Soft Power” China di Indonesia harus diimbangi dengan pembangunan kebudayaan Indonesia, khususnya Islam Indonesia, agar mampu menahan arus dominasi yang terjadi.
  3. Indonesia dan China dapat saja bekerjasama dalam kedaulatan yang seimbang. Hal ini perlu dipikirkan strateginya, mengapa di era pak Soeharto, kebanggaan ke Indonesia an bisa lebih tinggi dibandingkan saat ini, secara budaya?

====

Buku ini terbitan baru, 2024. Ada 16 penulis dari berbagai universitas di Asean. Diterbitkan oleh ISEAS, Singapore dan diedit oleh Leo Suryadinata.

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaMenenggak Sejarah Miras BataviaSelanjutnyaPasang Naik Kulit Berwarna

Lainnya di Bedah Buku

Lihat semua
Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
Bedah Buku

Ketika Artificial IntelligenceArtificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi

16 Agustus 2026 · 12 menit baca

Membaca “Defensive Nationalism” dalam Konteks Indonesia
Bedah Buku

Membaca “Defensive NationalismDefensive Nationalism” dalam Konteks Indonesia

12 Agustus 2026 · 8 menit baca

Mengapa Presiden Indonesia Terlihat Sangat Kuat, tetapi Selalu Harus Berkompromi?
Bedah Buku

Mengapa Presiden IndonesiaPresiden Indonesia Terlihat Sangat Kuat, tetapi Selalu Harus Berkompromi?

7 Agustus 2026 · 5 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents