Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Prakiraan GejolakPrakiraan Gejolak 2025 di Indonesia (1)

Rusman

Rusman·11 November 2024·5 menit baca

Bagikan
Prakiraan Gejolak 2025 di Indonesia (1)
Kajian Metafisika Politik
Prakiraan ini sebatas asumsi berdasar metafisika politik. Teori metafisika yang jadi rujukan catatan ini ialah tesis Dr Mulyadi, senior dosen politik di UI, Jakarta. Adapun definisi dan maksud metafisika politik ala Mulyadi, sudah pernah saya tulis panjang lebar di artikel kecil bertajuk: “Antara Lord Acton, Pasal 6A Ayat (2) UUD NRI 1945, dan Teori Darwin (Suatu Tinjauan Metafisika Politik)“. Jadi, untuk menyingkat narasi, tidak perlu lagi saya terangkan pada catatan ini. Silakan googling saja. Dan kajian ini, juga berbasis falakiyah menurut perspektif Islam, khususnya hitungan tahun. Inilah uraiannya secara sederhana.
Tak pelak, sejak proklamasi kemerdekaan dibaca oleh Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, hampir di setiap tahun yang angka belakangnya 5 (lima), republik ini kerap kali dilanda “isu berdarah”. Memang tidak setiap kali. Tak semua angka lima per/10 tahun mengalir darah. Ada pula yang landai dengan situasi sedemikian rupa, atau sedikit gejolak baik dari sisi ekonomi, sosial, budaya (ekosob) maupun gejolak alam, misalnya, atau krisis politik (konflik) yang memang berdarah. Dalam hitungan falakiyah, angka “lima” itu identik dengan “api”. Dinamai tahun api.
Uraian singkat tahun api secara individu, contohnya, angka lima diartikan sebagai jiwa semangat atau api yang tidak kunjung padam pada satu sisi, namun melekat sifat pemarah, “kuping tipis”, mudah dihasut di sisi lain. Bila ditarik ke kondisi yang lebih besar minimal merujuk pada situasi dengan apa yang disebut “api dalam sekam”, maksimalnya —jika tanpa antisipasi— ia bisa menjadi gejolak berdarah.
Contoh. Situasi peperangan dalam rangka merebut dan mempertahankan kemerdekaan 1945 silam, atau Gerakan 30 September 1965 alias G30S/PKI. Nah, dua peristiwa di atas tergolong berdarah baik antara para pihak yang bertikai maupun korban rakyat sebagai tumbal politik.
Mundur sejenak. Lantas, isu berdarah semacam apa di tahun 1955?
Kala itu, Indonesia dianggap sukses menyelenggarakan Pemilu 1955 yang katanya paling demokratis dimana tentara dan polisi pun ikut nyoblos. Namun, pada saat yang sama kita dilanda perang saudara alias konflik vertikal melawan DI/TII di bawah kepemimpinan Kartosoewirjo.
Bagaimana kondisi “angka lima” pada dekade selanjutnya?
1975: Ditandai dengan invasi ke Timor Leste atau lebih dikenal sebagai Operasi Seroja tanggal 7 Desember 1975 tatkala militer Indonesia ‘masuk’ ke Timor melalui isu anti-kolonialisme dan anti-komunisme guna menggulingkan Fretilin yang berdiri pada 1974.
1985: Memang tidak ada kejadian signifikan terkait isu berdarah. Akan tetapi, peledakan candi Borobudur oleh Kelompok Imron dkk di Magelang pada Senin, 21 Januari 1985 cukup mengejutkan Indonesia bahkan publik global, karena status Borobudur sebagai salah satu (warisan) dari tujuh keajaiban dunia.
1995: Gempa di Kerinci mengguncang pada bulan Oktober dan menelan korban relatif banyak;
2005: Terdapat beberapa peristiwa, antara lain:
* Gempa bumi Nias-Simeulue berkekuatan 8,6 SR mengguncang Sumatera Utara pada 28 Maret (2005. Gempa ini mengakibatkan 915 –1.314 orang meninggal dunia dan 340 – 1.146 orang luka-luka.
* Tragedi pesawat Mandala jatuh di Medan pada 5 September 2005. Peristiwa ini menyebabkan 149 orang tewas.
* Ledakan bom di Pasar Tradisional Palu pada 31 Desember 2005.
* Dan lain-lain.
2015: Peristiwa 17 Juli 2015 di Tolikara, Papua, saat Hari Raya Idul Fitri. Isu SARA ini sempat meluas, meski korbannya hanya satu orang tewas tertembak, satu mushala, beberapa rumah, dan ruko warga terbakar, kenapa? Sebab, kuat diduga merupakan permainan intelijen asing yang ingin mengulang konflik horizontal di Ambon silam. Syukurlah aparat bergerak taktis dan para tokoh/masyarakat memiliki daya tangkal terhadap virus adu domba yang ditebar asing (baca: Permainan Intelijen Asing di Tolikara). Isu dimaksud akhirnya mampu dilokalisir, tidak melebar, dan padam.
Prakiraan Konflik dan “Pintu Masuk”-nya
Di penghujung 2024 ini, jelang 2025, bangsa ini tak boleh underestimate atas peristiwa serta data-data di atas. Kecenderungan politik, ekosob dan fenomena alam niscaya berulang sekali pun kondisinya nanti minimal.
Secara konstitusional bahwa pencanangan Indonesia Emas dalam RPJPN 2025-2045 alias Indonesia Mercusuar Dunia, selain harus digarap dengan sepenuh hati oleh para elit dan segenap anak bangsa, juga dipastikan terdapat para pihak baik eksternal (elit global) maupun proksi lokal (internal) yang “tidak suka” atas keberdayaan Indonesia di kancah internasional di satu sisi, hal ini ditandai dengan:
1. Bonus demografi 2030;
2. Hampir semua raw material industri dunia terdapat dan berserak di Indonesia;
3. Takdir (geo) posisi silang Indonesia di antara dua benua dan dua samudera;
4. Pasar yang potensial karena faktor demografi;
5. Histori dan kronologis Indonesia sebagai negara besar di masa silam;
6. Tingginya harapan rakyat terhadap kepemimpinan Prabowo Subianto selaku RI-8;
7. Dan lain-lain.
Sedang pada sisi lain, residu masalah yang merupakan side effect atas praktik rezim (sistem dan aturan) di era sebelumnya, misalnya:
1. Maraknya “politik glamor” produk UUD 1945 Hasil Amandemen (1999 – 2002) yang cenderung gaduh, mewah dan terlihat gemerlap di atas permukaan, akan tetapi — selain tidak menyentuh Kepentingan Nasional RI, juga membelah rakyat serta melemahkan Sila ke-3 dari Pancasila;
2. Kesenjangan antara kaya dan miskin semakin lebar ditandai kekayaan 1% orang sama dengan 100 juta warga;
3. Menurunnya daya beli masyarakat/deflasi;
4. “Utang” dan defisit APBN 2025 – 2029;
5. Bangkrutnya pabrik-pabrik, tutupnya beberapa starup dan isu PHK massal;
6. Beberapa isu warisan terkait korupsi;
7. Isu fufufafa yang mencoret wajah (moral) bangsa;
8. Dan seterusnya.
Secara filosofi, adanya kesenjangan yang lebar antara harapan dan kenyataan niscaya akan menjadi pintu masuk sebuah gejolak, misalnya, selain lebarnya gap antara si kaya dan miskin —maka perlu pemerataan— juga harapan rakyat digantung tinggi atas pidato-pidato Prabowo yang kental nasionalisme, heroik lagi pro rakyat di satu sisi, nantinya justru bisa memantik gejolak politik dan ekosob jika kenyataan hidup mayoritas rakyat ke depannya tetap suram. Bukannya senjata makan tuan, hanya kakehan gludhug kurang udan, kata orang Jawa. Entah dari sisi mana pintu gejolak kelak meletus.
Lalu, bagaimana antisipasi dan upaya minimalisir agar konflik tidak berdarah-darah?
Bersambung ke (2)
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaPrakiraan Gejolak 2025 di Indonesia (2/Habis)SelanjutnyaKebijakan Luar Negeri AS di Kawasan Heartland Tetap Tidak Berubah Dalam Era Donald Trump (2024-2028)

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents