Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Internasional

Resolusi 598598

Rusman

Rusman·30 Juli 2025·4 menit baca

Bagikan
Resolusi 598

Oleh: H. Mahbub Djunaidi
(TEMPO, No. 22. Tahun XVIII, 30 Juli 1988)

BAHWA Syah Pahlevi itu bergajul, bahwa baginda lupa daratan dan serakah dan totaliter, itu sudah jelas. Makanya ia senantiasa waswas walau bunyi daun kering bergoyang. Makanya ia mengandalkan kestabilannya hanya pada jangkauan tangan intel Savak yang menyelinap pada setiap jendela rumah.

Makanya ia menindas tiap beda pendapat dan merasa puas dengan kekuatan militer dan bukan pada demokrasi dan akal sehat. Dan makanya revolusi pimpinan Khomeini yang menggusur singgasana dholim yang ditunjang AS mendapat sambutan di mana-mana sebagai karya besar menggulingkan feodalisme dan kediktatoran, yang selain angkuh juga bejat.

Bahwa sesudah itu Khomeini menafsirkan revolusi itu hanya dengan main potong dan main tangkap serta tembak, menyiram kebencian dan saling curiga, mengekspor revolusi padahal revolusi tidak bisa diekspor seperti halnya kurma dan rumput Fatimah, melainkan harus timbul dari kondisi obyektif setempat, itu pun jelas satu permulaan yang salah.

Makanya ia lantas menengok Irak sebagai lawan ras yang pernah menggulingkan Kaisar Cyrus yang agung di Babylon. Makanya ia lantas – seperti kata Menteri Penerangan Irak Latief Yassim – akan ekspansi dan mendirikan empirium yang membentang dari Jazirah Arab hingga Indonesia.

Bahwa akibatnya ia merobek-robek perjanjian Aljazair yang mengatur Shatt al Arab, dan mulai Februari 1979 hingga September 1980 melakukan pelanggaran udara 249 kali dan darat 244 kali, bukanlah hal yang luar biasa. Dan kemudian Irak membalas pada tanggal 22 September 1980, bukanlah hal yang luar biasa pula.

Maka, pecahlah perang bangsa Arab lawan Persia selama 8 tahun, seperti juga pernah terjadi ketika Cyrus dan putranya Cambyses menggasak dan membakar Babylon tahun 2000-an sebelum Masehi. Seperti juga pernah terjadi ketika pasukan khalifah Umar Ibn Khattab menyerbu dan menyapu Persia tahun 641 Masehi.

Sepintas lalu, peperangan sekarang kelihatan seperti mempersoalkan tanah yang mengandung minyak. Tapi bukankah juga tersirat dendam ras lama antara Persia dan Arab, tersirat juga dendam kaum Syiah terhadap Suni, yang selama ratusan tahun tak pernah diberi hati?

Bahwa perang 8 tahun melelahkan kedua belah pihak, bahwa penonton teve dan pembaca koran sudah bosan membaca perang yang hampir tidak ketahuan apa maunya, bahwa Irak sudah menumpuk utangnya sekitar 75 milyar dolar dari Arab Saudi untuk biaya perang, bahwa Iran sudah kehilangan banyak anak muda digiring ke medan laga, itu semuanya benar.

Dan benar pula jika Saddam Hussein ingin berdamai sejak 28 September 1980 (berarti cuma 6 hari sesudah perang pecah), dan Khomeini tidak pernah menggubris tawaran itu walaupun usul berhenti tembak-menembak di bulan suci Ramadan. Salahkah anggapan orang bahwa Irak sebenarnya sudah lama ingin damai, dan Iran mau terus berperang hingga Karbala dan Baghdad jatuh dan Saddam Hussein turun dari kursi presiden?

Bahwa sekarang Iran sudah mau menerima Resolusi 598 Dewan Keamanan PBB itu juga benar. Ini berarti menyetujui penarikan mundur kedua pasukan, pertukaran tawanan perang, dan penentuan siapa yang memulai perang, walau sekarang menyetop perang jauh lebih penting dari berdebat siapa sebagai pemula. Karena Baghdad akan mengambil patokan serangan Iran sudah bermulai bulan Februari 1979 dan baru dibalas bulan September 1980, sedangkan Iran menganggap Irak sudah bergerak merebut Shatt al Arab pada saat Khomeini lagi repot menyelesaikan masalah dalam negerinya.

Bahwa Irak menghendaki perundingan langsung, suatu hal yang tidak tercantum dalam resolusi 598, memang ada logikanya juga. Sebab, dengan siapa Iran akan berunding jika tidak dengan Irak? Posisi PBB tidak lebih sebagai pengawas dan bukan pihak yang terlibat perang. Bukankah PBB bisa saja mengecewakan pihak yang bersengketa, seperti pernah terjadi pada kasus referendum menentukan suara rakyat di Kalimantan Utara pada zaman konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia, yang menyebabkan Indonesia keluar dari badan dunia itu?

Bahwa perdamaian yang tercapai di Teluk akan meningkatkan produksi minyak dan akan menurunkan harganya, itu merupakan logika yang terkait. Bagaimanapun juga, perdamaian dan kemerdekaan lebih penting dari segala-galanya, dan harus disambut dengan kedua belah tangan terbuka.

Dengan perdamaian di tangan, Baghdad bisa memugar Babylon dan meningkatkan kesejahteraan dan demokrasi penduduk. Dengan perdamaian itu pula Teheran bisa membangun Persia yang besar, tanah air penyair Firdausi dan Hafiz dan Umar Khayyam serta Jalaludin Rumi.

Mereka akan mampu pula menyuguhkan kepada penduduknya udara yang lebih segar dibanding zaman tirani Syah Pahlevi, di bawah satu atap republik yang betul-betul demokratis, sesuai dengan namanya, di mana suara manusia lebih mengatasi kasak-kusuk para intel.

Sumber: TEMPO, No. 22. Tahun XVIII, 30 Juli 1988

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaIslamophobia dan Muslim di EropaSelanjutnyaKeberadaan SITCA, Bukan Solusi untuk Mengatasi Akar Penyebab Konflik Rusia-Ukraina Sejak 2022

Lainnya di Internasional

Lihat semua
Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

USAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia
Analisis

USAIDUSAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia

10 Agustus 2026 · 6 menit baca

FPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel
Internasional

FPNFPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel

8 Agustus 2026 · 4 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents