Hutang dan Lonceng Kematian Imperium AS

Bagikan artikel ini

Salah satu isi pembicaraan yang tidak banyak disorot publik dan masuk dalam Deep State’s prime operatives adalah penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton, yang menyinggung utang AS yang sangat besar dan terus meningkat. Berbicara dalam pertemuan Alexander Hamilton Society, Bolton memperingatkan bahwa tingkat utang AS saat ini yang berpotensi memberikan “ancaman ekonomi” bagi keamanan negara.

“Ini adalah fakta bahwa ketika (peningkatan) utang nasional Anda sampai pada level kita, itu merupakan ancaman ekonomi bagi masyarakat. Dan ancaman semacam itu pada akhirnya memiliki konsekuensi keamanan nasional untuk itu.”

Apa yang paling mengejutkan tentang pernyataan Bolton adalah bahwa ada sedikit reaksi atas besarnya utas AS dari pers keuangan, pasar itu sendiri, atau pemerhati politik. Sementara pasar ekuitas berada di tengah-tengah aksi jual, belum jatuh tempo (sampai sekarang) sampai defisit AS yang saat ini lebih dari $ 1 triliun per tahun. Sebaliknya, fakta tersebut akibat dari ketakutan atas kenaikan suku bunga dan ketegangan perdagangan yang berlanjut dengan Cina.

Sementara peringatan Bolton tentang utang tidaka lain adalah pereingatan pada kepentingan AS sendiri dalam arti imperium AS yang pada akhirnya tergantung pada kekuatan ekonomi. “Keamanan nasional” tidak terancam oleh krisis utang yang berarti dolar yang bisa dikompromikan, tetapi peristiwa semacam itu akan membatasi apa yang bisa dilakukan AS secara global. Keamanan nasional yang nyata adalah pertahanan terhadap kendali tanah air dan perbatasan – bukan intervensi di luar negeri.

Para pedagang perang seperti Bolton takut bahwa krisis utang akan berdampak pada penurunan kekuasaan AS di luar negeri. Amerika dengan cepat mendekati apa yang terjadi dengan Kerajaan Inggris setelah keterlibatan gilanya dalam dua Perang Dunia dan penciptaannya sendiri atas negara kesejahteraan dalam negeri yang membuat negara itu kelelahan dan menyebabkan perpindahan pound Inggris sebagai “mata uang cadangan dunia.”

Perang pimpinan AS di Timur Tengah sebagaimana diperkirakan oleh sebuah kajiam di Universitas Brown baru-baru ini, telah menelan biaya biaya sekitar $ 4 triliun. Meskipun ini diklaim menghambur-hamburkan keuangan AS dan dan disebut Trump bahwa Perang Irak sebagai “bencana,” justru saat ini Trump meningkatkan belanja “pertahanan” untuk TA 2019 menjadi $ 716 miliar.

Pengeluaran AS yang berlebihan dan penciptaan utang, tidak diragukan lagi, telah menjadi sorotan komunitas internasional. Mungkin mengapa Presiden Rusia Vladimir Putin begitu ragu-ragu untuk mengambil tindakan serius terhadap berbagai provokasi yang telah diambil AS di seluruh dunia dan melawan kepentingan Rusia secara langsung. Putin yang cerdik mungkin menganggap bahwa ledakan pasar keuangan AS pada akhirnya akan membatasi kemampuan Amerika untuk menimbulkan kekacauan dan malapetaka secara internasional.

Tindakan bellicose terbaru Trump, yang direkayasa oleh John Bolton, telah ditarik dari perjanjian kekuatan nuklir jarak menengah (INF). Perjanjian itu, yang ditandatangani pada 1987, adalah pencapaian penting Pemerintahan Reagan yang menurunkan ketegangan antara dua kekuatan super dan terus membayangi pengembangan senjata yang sangat mahal yang sulit untuk direalisasikan.

Penurunan keuangan berikutnya pasti akan mengerdilkan krisis 2008, yang terakhir yang hampir meruntuhkan seluruh sistem keuangan. Yang berikutnya akan jauh lebih buruk dan akan berlangsung jauh lebih lama karena tidak ada yang diselesaikan dari krisis pertama. Satu-satunya hal yang telah terjadi adalah terciptanya lebih banyak utang, tidak hanya di AS, tetapi oleh hampir semua negara Barat.

Di bawah kondisi ideologi saat ini, perubahan dalam kebijakan luar negeri AS menjadi non-intervensi tidak mungkin. Opini publik jelas pro-militer setelah bertahun-tahun indoktrinasi dan propaganda oleh pers, pemerintah, akademisi, dan media. Ini akan menurunkan kekuatan ekonomi Amerika, khususnya hilangnya dolar sebagai mata uang cadangan dunia, yang pada akhirnya akan menurunkan imperium yang memiliki tokoh neo konservatif seperti John Bolton.

Sayangnya, hingga saat itu, AS akan terus mengamuk. Hari perhitungan, bagaimanapun, tampaknya cepat mendekat dan bukannya kekalahan di medan pertempuran, imperium AS justru akan runtuh menjemput kematiannya di bawah gunung utang. Akan lebih tepat jika skenario semacam itu harus dimainkan sendiri sehingga akan memulai proses retribusi yang sangat diperlukan yang, setidaknya, dalam arti kecil, memberi kompensasi bagi mereka yang telah menderita dan meninggal akibat kebijakan luar negeri AS sendiri.

Sudarto Murtaufiq, Peneliti Senior Global Future Institute

Facebook Comments