Kemana Isu Dualisme Batam Berlabuh? (Bagian ke-2)

Bagikan artikel ini

Ada dua isu aktual yang merupakan sumber permasalahan dari isu-isu lain sebagai ikutan. Adapun isu (utama) aktual tersebut antara lain:

Pertama, geopolitical shift atau pergeseran geopolitik dari Atlantik ke Asia Pasifik. Catatan ini tak mengurai detail mengapa ia (geopolitik) bergeser, tetapi sekilas mengurai bahwa faktor pertumbuhan ekonomi, daya konsumsi, pasar yang luas, dan seterusnya kini condong ke Asia Pasifik;

Kedua, perubahan power concept dalam perilaku geopolitik, yaitu bergantinya pola penggunaan kekuatan yang sebelumnya lebih menonjolkan peran militer sebagai penjuru, sekarang menjadi power ekonomi di depan, dan seterusnya. Perlu dijelaskan sekilas bahwa power concept itu meliputi power politik, militer dan ekonomi.

Itulah dua isu pokok yang pada gilirannya membidani persoalan lain —isu ikutan— sebagai konsekuensi atas dinamika lingkungan strategis yang terus bergerak, seperti British Exit (Brexit), contohnya, atau isu Laut Cina Selatan, trade war, isu nuklir Korea, American first dan lain-lain. Pertanyaan selidik muncul, “Dimana power politik berada?”

Ya keduanya, baik power militer maupun aspek ekonomi sebenarnya merupakan hasil interaksi proses (power) politik. Dan dalam konteks ini, power politik lebih kepada linking pin alias pasak penghubung antara keduanya. Artinya, ketika power militer terkadang di depan, atau tatkala ekonomi kadang di depan, itu adalah hasil atas proses-proses dinamika politik. Dan kerap kali, keduanya berjalan simultan dengan intensitas berbeda tergantung tujuan dan sasaran. Jepang contohnya, lebih concern ke power ekonomi ketimbang politik dan militer, namun sejak isu nuklir Korut mencuat, ia mulai membangun kembali militernya. Atau, Cina tempo doeloe lebih mengkedapankan power ekonomi daripada aspek lainnya. Tetapi harus diakui, memasuki Abad ke-21 ketiga power concept tadi dijalankan secara simultan oleh Cina.

Korea Utara (Korut) lebih menampilkan militer daripada power lainnya, sedang Korea Selatan kebalikan dari Korut, ia lebih menonjolkan wajah ekonominya. Kalau posisi Amerika Serikat (AS) sudah jelas, bahwa sejak dahulu menjalankan ketiga power secara konsisten karena kepentingan nasional AS berserak di berbagai belahan dunia. Makanya ia sering dijuluki sebagai “Polisi Dunia” karena malang melntang di panggung geopolitik global demi memastikan kepentingan nasionalnya tidak terganggu. Itulah contoh sekilas penggunaan power concept di panggung geopolitik global.

Kembali ke Asia Pasifik. Sekurang-kurangnya, urain pokok-pokok kondisi geopolitik di atas walau sekilas bisa dinarasikan, bahwa situasi geopolitik hari ini dan ke depan, selain gelombangnya bergeser ke Asia Pasifik, juga aspek ekonomi kini menjadi leading power selaku penjuru, bukan lagi power militer sebagaimana tempo doeloe. Pertanyaan selanjutnya, “Dimana muara (kolam besar) dan epicentrum atas pergeseran geopolitik di atas?”

Ketika medan geopolitik Abad ke-21 cenderung berinteraksi di perairan, maka berbasis isu-isu ikutan aktual akibat sengketa batas antar-negara di Asia Pasifik, tak boleh dipungkiri bahwa kolam besar dimaksud ialah Laut Cina Selatan (LCS). Kenapa? Selain merupakan jalur pelayaran internasional, LCS memiliki potensi hidrocarbon yang besar. Itu kolam besarnya. Lantas, dimana epicentrum dari geopolitical shift dimaksud? Tak lain dan tak bukam adalah Selat Malaka selaku lintasan pelayaran utama dari Lautan Pasifik menuju Lautan Hindia, dan sebaliknya. Nah, keduanya baik LCS maupun dan Selat Malaka —kendati baru asumsi— boleh dijadikan titik bahasan catatan ini dengan beberapa alasan, antara lain yaitu:

1) Selat Malaka merupakan selat tersibuk kedua setelah Selat Hormuz, Iran; 2) dalam perspektif geopolitik, Selat Malaka hari ini dalam kendali Amerika Serikat (AS) karena bercokol Armada VII di sana; 3) sekitar 80-an persen konsumsi minyak Cina dari berbagai negara melalui jalur tersebut (Selat Malaka), dan seterusnya.

Inilah menariknya konstestasi geopolitik. Di satu sisi, meski LCS seperti dalam “kendali” Cina karena selain klaim sepihak Kepulauan Paracel dan Spratly, juga marak pembangunan fasilitas militer di kedua kepulauan sengketa tersebut oleh Cina namun para tetangganya seperti “diam” tak berkutik dan dunia membiarkan; sementara di sisi lain, Selat Malaka justru dalam kendali Paman Sam cq Armada VII. Artinya bila kelak terjadi friksi terbuka antara Cina melawan AS, meskipun Cina menguasai LCS, kemungkinan AS tinggal blokir Selat Malaka maka akan kolaps karena supplay serta akses minyak Cina menjadi terhambat.

(Bersambung Bag ke-3)

Facebook Comments