Membaca Agenda Tersembunyi Trump Terhadap Iran

Bagikan artikel ini

Rangkuman dari Artikel Prof James Petras di Global Research.

Kalangan yang mengecam kebijakan luar negeri Presiden AS Donald Trump biasanya dikaitkan dengan kondisi mental dan kejiwaannya yang tidak sttabil dan tak terkontrol. Namun Profesor James Petras dalam artikelnya di global research yang bertajuk 

Reasons Trump Breaks Nuclear-Sanction Agreement with Iran, Declares Trade War with China and Meets with North Korea

mengatakan bahwa keputusan-keputusan strategis Trump sejatinya ada alasan sejarah politik dan didasari latarbelakang yang cukup masuk akal ditinjau dari perspektif kekuasaan imperium (Imperial Power). Keputusan Trump untuk membatalkan persetujuan penghentian sanksi kepada Iran terkait kepemilikan senjata nuklir yang ditandatangani pada era kepresidenan Barrack Obama dengan pemerintah Iran, menurut James Petras merupakan keputusan strategis Trump. Bukan karena gangguan mental atau kejiwaan. Begitu pula halnya dengan keputusan Trump melancarkan deklrasi perang dagang terhadap Cina. Maupun kesediaannya mengadakan pertemuan dengan Korea Utara.   Dalam bacaan Petras, pemikiran strategis yang ada di benak Trump sederhana saja. Bahwa untuk menciptakan AS sebagai kekuatan unipolar, maka AS harus berkeras pendirian dalam menghadapi perundingan-perundingan diplomatik. Sehingga baik kepada sekutu, musuh maupun pesaing, dalam pemikiran strategis Trump harus dihindari terjadinya konsesi atau kesepakatan timbale-balik.   Bagi Trump, kesepakatan melalui meja perundingan berarti harus berhasil memaksa mitra dialognya untuk memberikan konsesinya kepada Amerika, atau menyerah kalah atau rela mengorbankan kepentingan strategisnya kepada Amerika melalui meja perundingan.

Dalam bahasa lainnya, melalui perundingan Amerika harus bisa memaksa lawannya menyerah kalah.   Dalam kerangka strategis seperti ini, bagi Trump hanya akan mentolerir adanya manuver politik tandingan secara terbatas dari sekutu, musuh maupun pesaingnya di meja perundingan.

Inilah politik kekuatan ala Trump   Apa Sasaran Strategis Trump Terhadap Iran? Bagaimana penjabaran kerangka strategis Trump tersebut ketika diterapkan keapda Iran? Kesepakatan AS-Iran pada era Obama bertumpu pada tiga hal: AS tetap mempertahankan sanksi terhadap Iran, penghentian secara total seluruh program nuklir Iran, serta menyerukan adanya peran terbatas Iran dalam suatu kemungkinan persekutuan dengan negara-negara Arab di Timur Tengah.    

Dalam kesepakatan Iran dengan pemerintah Obama kala itu, sebagai imbalan atas kesediaannya menghentikan program nuklirnya, Iran meminta konsesi agar Iran mendapat peluang pasar untuk menjual peralatan militer dan persenjataannya.  

Dalam perhitungan Trump, adanya konsesi sepihak Iran kepada Obama kala itu, Trump terdorong untuk melakukan intimidasi kepada Iran, dengan mengancam akan menutup peluang pasar kepada Iran dalam perdagangan senjata.  

Dalam bayangan Trump, Presiden Iran Rouhani ini seakan seperti penjual karpet atau permadani, daripada seorang ahli strategi kemiliteran. Sehingga dalam perhitungan Trump yang sederhana, dengan melakukan tekanan ekonomi kepada Presiden Rouhani, Iran akan dengan begitu mudah dipaksa untuk mengorbankan persekutuan strategisnya dengan Suriah.  Begitu juga akan bersedia begitu saja mengorbankan persekutuannya dengan Hizbollah di Lebanon, kelompok Houthi di Yaman, Hamas di Palestina, dan Islam Shia di Irak.

Bahkan dalam bayangan Trump pula, Iran akan bersedia menghentikan program rudal Inter Continental Balistic Missile (ICBM) yang merupakan salah satu sistem pertahanan strategis Iran dewasa ini.   Singkat cerita, tujuan strategis Trump adalah melemahkan Iran seraya mempersiapkan pergantian pemerintahan (Regime Change) di Iran.

Dalam skema hubungan AS dan Iran para sera sebelum meletusnya Revolusi Islam 1979, ketika Iran di bawah Shah Rexa Pahlevi sepenuhnya merupakan negara satelit AS.   Alasan kedua di balik keputusan strategis Trump adalah memperkuat angkatan bersenjata Israel di Timur Tengah.

Bukan rahasia lagi kalau pemerintahan Trump sangat dipengaruhi oleh kelompok Zionis atau lobi Yahudi di Washington. Kelompok ini oleh James Petras disebut Zionist Power Configuration (ZPC).   Agaknya seperti halnya George W Bush yang jadi presiden antara 2000-2008 sebelum Obama, sangat tunduk pada arahan dari ZPC. Mengingat kuatnya pengaruh zionis di media, keuangan, real estate hingga asuransi.  

Dengan begitu, James Petras menyimpulkan bahwa keputusan Trump untuk membatalkan perjanjian damai AS-Iran di era Obama, oleh sebab desakan dan pengaruh yang begitu kuat dari Lobi Yahudi di Amerika. Trump tunduk pada arahan kebijakan strategis kelompok ZPC tersebut.   Juga berkat arahan dan desakan dari kaum zionis Trump memaksa Jerman, Prancis dan Rusia agar menghentikan persetujuan dagang senilai miliaran dolar AS dengan Iran.   

————————————————-

Untuk uraian selengkapnya bisa dibaca di      https://www.globalresearch.ca/reasons-trump-breaks-nuclear-sanction-agreement-with-iran-declares-trade-war-with-china-and-meets-with-north-korea/5640399 

      

Facebook Comments