Membaca Langkah Thanos dalam Perang tak Terbatas di Indonesia

Bagikan artikel ini

Malika Dwi Ana, Network Associate Global Future Institute (GFI)

Pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) di acara World Economic Forum on ASEAN pada Rabu (12/8/2018) di Hanoi, Vietnam menuai viral positif di dunia maya. Cukup menarik memang. Selain berbicara soal perang dagang yang meletus 1930-an dan mengakibatkan depresi (ekonomi) besar di dunia, juga disampaikan bahwa perang dagang masih berlangsung hingga hari ini namun dengan intensitas yang tak jauh berbeda.

Pidato Jokowi kian menarik ketika ia membuat perumpamaan peristiwa itu dengan infinity war, perang tak terbatas, seperti narasi dalam cerita film (fiksi) Avengers: Infinity War (2018).

Intinya begini, “Kita harus cegah permasalahan perang dagang (agar tidak) menjadi infinity war“.

Lebih menarik lagi saat Jokowi menganalogikan diri sebagai salah satu Avengers yang akan mengalahkan Thanos. Ya Thanos pada film tersebut adalah sosok antagonis yang ingin menghapus setengah populasi dunia karena merasa sumber daya hidup tidak mencukupi untuk semua orang.

Jokowi berfilsafat, bahwa Thanos bukanlah perseorangan, tetapi ia ada di dalam diri kita masing-masing. Thanos merupakan kepercayaan yang salah, karena meyakini, “Agar kita sukses maka orang lain harus jatuh, harus menyerah.” Bahwa munculnya orang baru berarti hilangnya orang lain (sebelumnya). Kebangkitan harus dimulai oleh kehancuran lainnya.

Jokowi menekankan, bahwa perang dagang bukanlah permainan kalah menang, namun semua pihak harus belajar dari sejarah untuk dapat bersatu dan memperbaiki sumber daya untuk dinikmati bersama. Ia menekankan lagi, infinity war bukan soal perang dagang, namun juga tentang setiap pihak yang bisa membawa kesuksesan dalam sumber daya melalui kreatifitas, energi, kolaborasi, dan hubungan baik. Kemanusiaan akan menikmati.

Ia memberi contoh bahwa perkembangan teknologi telah meningkatkan efisiensi dan memberi kemampuan sumberdaya yang lebih dibanding sebelumnya. Dalam bidang ekonomi, dicontohkan, bahwa dalam 12 tahun terakhir, TV, kamera, pemutar musik, buku, surat kabar dan majalah telah digantikan smartphone dan tablet sehingga lebìh efisien dalam hal berat dan volume fisik. Juga pembangkit listrik berbahan batu bara digantikan oleh panel surya yang tipis dan ringan.

Nah, dari pidato Jokowi di Hanoi, sekurang-kurangnya diperoleh beberapa poin penting yang bisa dipetik, antara lain:

1). Ekonomi ini memang soal nilai tambah. Distribusinya tidak harus jadi zero sum game. Yang ini bener. Kita mesti mendorong coopetition; berlomba melalui kerjasama.

2) Kita juga harus belajar dari sejarah. History repeat itself. Karena sejarah niscaya berulang hanya aktor dan era yang berbeda; jasmerah…jangan sekali-kali melupakan sejarah.

3) Bahwa sumber daya manusia yang kreatif dan smart berbasis teknologi adalah sumber daya tak terbatas, dan poin tersebut merupakan antitesis dari keyakinan Thanos dalam film Avengers: Infinity War, yang meyakini bahwa sumber daya hidup tidak mencukupi bagi manusia, oleh karena itu setengah populasi harus ditiadakan, dan seterusnya.

Persoalannya adalah, “Apakah program dan kebijakan Jokowi telah senafas dengan esensi pidatonya di Hanoi?” Apakah konsisten sejalan antara pikiran dan perbuatan?

Nampaknya hal ini yang harus dibuktikan kepada rakyatnya agar tidak tergolong NATO (No Action Talk Only) alias ngobos bae. Nggacor ae thok jare wong Suroboyo alias ngedabrus thok jare wong Ngawi. Ati-ati, lambemu iso kesampluk helikopter!

Realitasnya, sekarang kita tengah diserang dan dikuasai oleh para Thanos dari berbagai arah baik darat, udara, laut ataupun di dunia nyata maupun dari dunia maya. Thanos ada di sekeliling kita. Mereka menguasai tambang-tambang kita, tanah dan kebun kita, hutan kita, pembangkit listrik kita, dan kini e-commerce kita telah dirambah pula oleh para Thanos. Kau pikir Gojek, Shopee, Lazada dan Tokopedia milik kita? Saham terbesar adalah milik asing. Ada Jack Ma, ada Chris Feng dari Singapura di e-commerce.

Pak Jokowi, tolong jangan asal mengundang lagi para Thanos ke Indonesia. Sebab akan ada dampak jangka panjang yang akan terjadi. Melalui modal, mereka kelak akan menguasai semua sektor darat, laut, udara dan dunia maya. Ini sudah, sedang dan akan terjadi disepanjang rezim anda berkuasa. Anda paham?!

Ayolah, Pak Jokowi, anda katanya adalah salah satu Avengers yang akan mengalahkan para Thanos. Hayuu tunjukkan mana Pancasilamu? Mana Trisaktimu? Berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi itu keharusan!

Seyogyanya tumbuhkan dulu ekonomi kerakyatan, berdayakan para petani untuk memacu ekspor bukannya menambah impor komoditi yang sejatinya berlimpah ruah di negeri ini. Bukan juga sebaliknya; malah menyediakan infrastruktur dan jalan tol untuk para Thanos!

Facebook Comments