Membaca Pokok-Pokok Geostrategi Cina di Jalur Sutra (4)

Bagikan artikel ini

Kendati ada ungkapan bijak, “Jangan melihat buku dari sampulnya”, namun garis besar sebuah buku bisa diurai melalui judul. Kenapa? Judul buku, biasanya mencerminkan gagasan inti dan ide penulisnya. Dan sering kali, dengan membaca judul buku saja, si pembaca kutu buku —seolah-olah— telah dapat mengetahui sebagaian isi buku, bahkan paham benang merahnya.

Terkait hal di atas, dua dekade terakhir ini telah terbit dua buku yang judulnya sama, yaitu: “Silent Invasion“, atau Invasi Diam alias Invasi Senyap. Secara geostrategi, ia merupakan modus kolonialisme gaya baru terhadap objek jajahan/negara target melalui nirmiliter. Tanpa letusan peluru, tak tercium asap mesiu.

Buku pertama, terbit 1980-an ke bawah ditulis oleh Garth Alexander. Silent Invasion atau Invasi Senyap punya Alexander, membahas sepak terjang etnis Cina di Asia Tenggara khususnya segelintir elit swasta yang disebut sebagai “konglomerat hitam”. Poin Intinya, ada semacam kekhawatiran bahwa orang-orang Cina yang dipersepsikan penguasa ekonomi, kelak merambah ke sektor politik. Dan selang tak berapa waktu sejak buku tersebut terbit, kekhawatiran Alexander terbukti terutama setelah Orde Baru tumbang.

Era Reformasi merupakan pintu bagi etnis Cina terjun ke politik praktis baik selaku anggota dewan, contohnya, atau politikus, pengamat, bupati/walikota, dan seterusnya bahkan hingga pejabat negara sekelas menteri. Dan sesuai isyarat “Invasi Senyap” di atas, kecurigaan terhadap saudara (sebangsa) beretnis Cina ini tak cuma berkembang di sebagian elit pribumi, tetapi rasa kecurigaan itu hadir pula di masyarakat pada umumnya.

Menariknya, survei berskala nasional oleh ISEAS Yusof Ishak Institute, lembaga riset di Singapura, bahwa sekitar 47-an persen responden setuju dengan anggapan bahwa etnik Cina di Indonesia masih memiliki kesetiaan terhadap Cina; sekitar 41-an persen (responden) juga punya anggapan bahwa orang Cina memiliki pengaruh politik; sedangkan sekitar 64-an persen menyatakan tidak nyaman jika dipimpin oleh politisi etnik Cina. Itu poin pokoknya.

Memasuki Abad ke 21, terbit lagi buku kedua. Judulnya juga sama dengan karya Alexander: “Silent Invasion“, namun kali ini ditulis oleh Clive Hamilton, Direktur Eksekutif The Australia Institute. Dan selama beberapa tahun ia menjadi profesor etika publik di Universitas Charles Sturt, Canberra.

Hamilton menyadari, bahwa sesuatu yang besar tengah terjadi dan ia memutuskan untuk menyelidiki pengaruh Cina di Australia. Hasil penyelidikan Hamilton sungguh mengejutkan, bahwa mulai dari politik, budaya, real estate, pertanian, bahkan sekolah-sekolah dasar ada temuan/fakta kuat tentang penyusupan Partai Komunis Cina (PKC) di Australia. Ia melihat, operasi senyap Cina menarget para elit Negeri Kanguru. Bahwa sebagian diaspora Cina – Australia telah dimobilisasi untuk membeli akses ke para politisi, membatasi kebebasan akademik, mengintimidasi para kritikus, mengumpulkan informasi untuk badan-badan intelijen Cina serta menentang kebijakan pemerintah Australia melalui protes di jalan-jalan. Ada benturan kepentingan antara PKC dengan demokrasi Australia.

Hamilton memberi isyarat, bahwa Invasi Senyap merupakan ancaman bagi kebebasan demokrasi di Australia. Cina memang penting bagi kemakmuran, ungkap Hamilton, tetapi — berapa nilai kedaulatan kita sebagai suatu bangsa? Tampaknya, Cina hendak menarik negara-negara lain ke dalam pengaruhnya melalui modus Invasi Senyap.

Sebenarnya melalui buku karya Alexander dan Hamilton tadi diperoleh pointers, bahwa Invasi Senyap ala Cina itu ada (being), nyata (reality) dan berada/berperan (existance) di berbagai negara. Barangkali, operasi tersebut kini tengah berproses secara masif melalui apa yang disebut kebijakan OBOR, atau BRI, atau Jalur Sutra Abad ke 21.

Dan kemungkinan besar, viral kasus Sheri Yan, wanita 62 tahun yang dijuluki “Ratu Sosialita Australia – Cina” yang ditangkap oleh agen FBI pada Oktober 2015 di New York karena menyuap John Ashe, mantan Presiden Majelis Umum PBB —Yan diduga sebagai mata-mata Cina— sesungguhnya cuma sekedar puncak gunung es dari apa yang disebut dengan Silent Invasion ala Cina.

(Bersambung Bag 5)

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute

Facebook Comments