Mengenal Lebih Dekat Chaves, Inspirator Rakyat Venezuela

Bagikan artikel ini

Tulisan ini diolah dari sebuah artikel yang ditulis oleh John Pilger di laman globalresearch.ca, yang memberikan testimoni menarik mengenai sosok Hugo Chaves, mantan presiden Venezuela, yang hingga saat ini mengilhami seluruh rakyat Venezuela.

Menurut Pilger, selama mendampingi Hugo Chavez, dia menemukan kesan bahwa pada diri Chaves terpancar jiwa seorang negarawan yang cerdas, berwibawa dan berkarakter. Sebagaimana dia katakan tatkala di sebuah koperasi pertanian di negara bagian Lara, orang-orang berkenan menunggu dengan sabar kedatangan sang negarawan meski dalam kondisi terik yang panas. Sebuah gitar dimainkan; seorang wanita, bernama Katarina, berdiri dan bernyanyi dengan suaranya yang khas.

Chaves pun akhirnya datang. Namun, sisi lain yang menarik dari kedatangan Chaves adalah dia juga membawa sejumlah buku yang ditulis oleh tokoh-tokoh kaliber dunia seperti Orwell, Dickens, Tolstoy, Zola, Hemingway, Chomsky, Neruda.

Di hadapan orang-orang, Chaves berbicara melalui mikrofon sembari menjelaskan halama demi halaman dari buku-buku yang dia baca. Orang-orang pun bertepuk tangan dan bersiul yang menandakan kebanggaanya kepada Chaves yang memahami betul ide-ide dasar dari semua penulis buku tersebut. Mereka tercengang dan takjub atas apa yang mereka dapatkan dari penjelasan Chaves terhadap isi buku-buku tersebut.

Di sela-sela penjelasannya itu, Chaves bahkan menggambarkan demokrasi Venezuela sebagai model demokrasi khas di negaranya yang bertolak dari gagasan Rousseau tentang kedaulatan rakyat.

Pilger melanjutkan kesaksiannya selama melakukan perjalanan bersama Chaves. Dalam beberapa momen, misalnya di Barrio La Linea, dia mendapati seorang wanita, bernama Beatrice Balazo yang mengatakan bahwa anak-anaknya adalah generasi pertama kaum miskin yang menghadiri sekolah sehari penuh untuk belajar musik, seni, dan menari. “Aku telah melihat kepercayaan diri mereka berkembang seperti bunga,” katanya.

Di Barrio La Vega, Pilger juga mendengar pengakuan seorang perawat, Mariella Machado, wanita berkulit hitam berusia 45 tahun, yang berbicara kepada dewan pertanahan kota tentang masalah-masalah mulai dari tunawisma hingga perang ilegal. Hari itu, mereka meluncurkan Mision Madres de Barrio, sebuah program yang ditujukan untuk kemiskinan di kalangan ibu tunggal (single mothers). Menurut konstitusi, perempuan memiliki hak untuk dibayar sebagai penjaga, dan dapat meminjam dari bank khusus wanita. Sekarang ibu rumah tangga termiskin mendapatkan $ 200 per bulan.

Di sebuah ruangan yang diterangi oleh tabung fluoresen, Pilger juga bertemu Ana Lucia Ferandez, berusia 86, dan Mavis Mendez, berusia 95 tahun. Seorang anak berusia 33 tahun, Sonia Alvarez, datang bersama kedua anaknya. Sekali, tidak ada dari mereka yang bisa membaca dan menulis; sekarang mereka sedang belajar matematika. Untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, Venezuela memiliki hampir 100 persen melek huruf.

Kemudian para petani mengambil mikrofon dan mengadu kepada Chaves apa yang mereka ketahui, dan apa yang mereka butuhkan. Mereka dengan terus terang dan panjang lebar mengeluhkan kepada Chaves tentang irigasi. Mendapati keluh kesah mereka, Chaves pun menyimak dan mencatat dan mengesankan seperti orang tua mendapati curahan hati dai anak-anaknya.

Chaves pun menimpali bahwa selama ia berkuasa, setiap langkahnya akan selalu tunduk pada kehendak rakyat. Dalam delapan tahun, Chavez memenangkan delapan pemilihan dan referendum. Ini adalah sebuah rekor dunia. Dia secara elektoral adalah kepala negara paling populer di belahan Barat, mungkin di dunia.

Salah satu yang ia sampaikan adalah pernyataan seorang penulis feminis: “Cinta dan solidaritas adalah sama.” Orang-orang pun akhirnya memahmi dengan baik dan mengekspresikan diri mereka dengan bermartabat penuh rasa hormat. Mereka, yang notabene orang awam menganggap Chavez dan pemerintahannya sebagai juara pertama mereka dan menjadi milik mereka.

Itulah sekelumit jiwa kenegarawanan Chaves terhadap rakyatnya. Ia lebih mengedepankan kepentingan dan kehendak rakyatnya, terutama bagi orang pribumi, mestizos dan Afro-Venezuela, yang telah banyak mendapatkan perlakuan hina dan diskriminatif dari pendahulunya.

Namun, ada sebagian rakyat Venezuela yang maruk dalam jerat-jerat kepentingan asing terutama AS, sebagaimana digambarkan sejumlah kartunis dalam pers Venezuela, yang sebagian besar dimiliki oleh oligarki dan cenderung menentang pemerintah. mereka bahkan secara rasis menggambarkan Chavez sebagai kera. Seorang pembawa acara radio menyebutnya “si monyet”. Di universitas swasta, mata uang verbal anak-anak orang kaya sering kali merupakan medan pelecehan rasis terhadap mereka yang miskin.

Walaupun politik identitas adalah hal yang paling ditonjolkan di halaman-halaman surat kabar liberal di Barat, ras dan kelas adalah dua kata yang hampir tidak pernah dilliput secara luas dan lugas oleh media-media di Washington. Padahal AS telah banyak mengambil sumber minyak terbesar dunia dan merebut kembali “halaman belakangnya.”

Lepas dari semua kesalahan chavistas – seperti membiarkan ekonomi Venezuela menjadi sandera bagi kekayaan minyak dan tidak pernah secara serius menantang modal besar dan korupsi – mereka membawa keadilan sosial dan kebanggaan bagi jutaan orang dan mereka melakukannya melalui demokrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bahkan mantan Presiden Jimmy Carter melalui Carter Center-nya yang merupakan pemantau pemilu yang disegani di seluruh dunia, mengatakan, “dari 92 pemilihan yang telah kami pantau, saya akan mengatakan proses pemilihan di Venezuela adalah yang terbaik di dunia.” Sebaliknya, kata Carter, sistem pemilihan AS, dengan penekanan pada uang kampanye, “adalah salah satu yang terburuk”.

Sejak kematian Chavez pada tahun 2013, penggantinya, Nicolas Maduro, juga tidak luput dari campur tangan AS. Sebagaimana diulas oleh Hendrajit, pakar geopolitik Global Future Institute (GFI) bahwa Pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump nampaknya memang cukup agresif mendorong berbagai elemen masyarakat di Venezuela untuk menggusur Presiden Maduro secepatnya dari tampuk kekuasaan. Khususnya elemen-elemen sayap kanan Partai Republik pendukung Presiden Trump. Bahkan mendorong militer Venezuela berdiri di belakang Juan Guaido.

Campur tangan pemerintah AS semakin terang-benderang ketika pada 22 Januari lalu, Wakil Presiden Mike Pence yang juga berhaluan kanan radikal, menyatakan: “Nikolas Maduro adalah seorang diktator, dan tidak punya legitimasi kekuasaan. Dia tidak pernah memenangi pemilihan presiden yang bebas dan adil. Dia mempertahankan kekuasaannya dengan memenjarakan orang-orang yang berani melawannya.”

Campur tangan transparan dan tanpa-tedeng aling-aling dari Wakil Presiden Mike Pence itu, rupanya dibaca sebagai “kode keras” bagi Juan Guido dan kelompok-kelompok oposisi agar berani mengambil sikap frontal. Maka sehari kemudian, Guaido menyatakan diri sebagai kepala pemerintahan peralihan Venezuela.

Lebih krusial lagi, ketika kemudian Presiden Trump mengenakan sanksi terhadap perusahaan milik negara PDVSA, yang sangat beraroma pemerasan. Trump menyerukan akan mencabut sanksi terhadap PDVSA segera setelah Caracas menyerahkan kewenangan PDVSA kepada pihak oposisi.

Selain penguasaan kepemilikan minyak, Washington nampaknya punya sasaran lain yang tak kalah strategis di balik dukungannya kepada Guaido. Yaitu mendikte arah kebijakan ekonomi Venezuela. Tak lama berselang sejak Guaido menyatakan diri sebagai ‘presiden ad interim’, Gedung Putih memunculkan, satu lagi aktor baru sekaligus proxy agent-nya, yaitu pakar ekonomi sekaligus guru besar Universitas Harvard, Ricardo Haussman, sebagai penasehat ekonomi Juan Guaido.

Sudarto Murtaufiq, peneliti senior Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments