Penembakan Pesawat Drone AS RQ-4 Global Hawk, Rusak Skenario Perang Ekonomi Presiden Trump Terhadap Iran

Bagikan artikel ini

Di tengah memanasnya ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat versus Iran menyusul pembatalan sepihak perjanjian senjata nuklir kedua negara pasca pemerintahan Barrack Obama, secara tiba-tiba Iran menembak jatuh pesawat tanpa awal AS Drone RQ-4 Global Hawk.

Menurut beberapa pakar militer dan persenjataan strategi yang yang berhasil dihimpun tim riset Global Future institute, pesawat ini merupakan pesawat pengintai tercanggih dan termahal yang pernah dimiliki angkatan udara AS. Betapa tidak. Peswat pengintai ini mampu terbang selama 30 jam non-stop, dan mampu berada di ketinggian 20 km di atas permukaan bumi. Selain tidak berawak dan menggunakan sayap, pesawat Drone RQ-4 Global Hawk ini, termasuk jenis pesawat stealth alias siluman sehingga tidak bisa terlacak radar musuh. Selain itu, ketinggian yang 20 km di atas permukaan bumi itu, membuatnya mampu berada di zona aman dari serangan udara darat ke udara.

Tapi agaknya angkatan bersenjata Iran mampu menggugurkan teori tersebut. Dan bukan itu saja. Keberhasilan Iran menembak jatuh pesawat tersebut bisa dipastikan membuat AS sangat terpukul. Karena dengan penembakan pesawat Drone RQ-4 Global Hawk, Iran berhasil mempertunjukkan kecanggihan sistem pertahanan Iran sehingga bisa menjangkau pesawat tanpa awak yang dari awal didisain agar tidak bisa ditembak rudal manapun, karena jenis pesawat tersebut sebagai pesawat siluman, maupun karena ketinggiannya.

Bagaimana reaksi AS terhadap serangan Iran tersebut? Ini menarik untuk dicermati mengingat implikasi dari penembakan tersebut bisa berakibat meningkatnya ketegangan baru di Selat Hormuz. Padahal dalam kejadian sebelumnya beberapa waktu lalu, kasus ditembaknya dua kapal tanker di Teluk Oman, AS dengan serta merta menuduh Iran sebagai pelakunya. Padahal masih dalam proses penyelidikan.

Adapun mengenai penembakan Iran terhadap pesawat Drone AS seharga 120 -220 juta dolar AS itu, Washington membantah bahwa pesawat Drone RQ-4 Global Hawk itu ditembak karena berada di atas perairan Selat Hormuz yang berada dalam kedaulatan udara Republik Islam Iran. Dan mengatakan bahwa pesawat AS itu ketika ditembak pasukan garda revolusi Iran itu sedang berada di atas perairan internasional.

Menurut sebuah artikel yang berjudul:

Iran Shoots Down Strategic U.S. Drone – Is Ready For War – Puts “Maximum Pressure” On Trump ,

pesawat tersebut seharusnya tidak boleh berada di kawasan Timur-Tengah. Berarti bisa disimpulkan bahwa menuver pesawat Drone RQ-4 Global Hawk itu ketika ditembak tentara Iran sedang melakukan penerbangan rahasia. Analisis yang diajukan oleh artikel dilansir oleh situs http://www.informationclearinghouse.info/51799.htm itu bahwa pesawat tersebut jika tidak keburu ditembak Jatuh Iran, sudah mendarat di Qatar, beberapa hari yang lalu. Apa misi sesungguhnya dari pesawat tersebut ketika terbang melintas di atas perairan Selat Hormuz yang berada dalam wilayah udara Iran?

Artikel yang dilansir oleh information clearing house itu juga berpandangan bahwa dengan terjadinya insiden diitembak jatuhnya pesawat siluman AS super canggih itu, bahwa kampanye tekanan maksimum Presiden Donald Trump terhadap Iran ternyata sekarang berbalik menyerang dirinya sendiri.

Menurut beberapa sumber ring satu Gedung Putih sempat menginformasikan kepada sebuah surat kabar The Daily Beast, bahwa Trump memerintahkan jajaranya untuk menghindari konflik militer secara terbuka terhadap Iran. Bahkan memerintahkan melunakkan retorika bernada kebencian kepada Iran seperti selama ini disuarakan oleh dua staf utamanya yang menganut haluan keras terhadap Iran yaitu: Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Penasehat Keamanan Nasional Gedung Putih John Bolton.

Yang selama ini dilancarkan Presiden Trump adalah perang ekonomi terhadapa Iran seraya melakukan serangkaian tekanan diplomatik yang menyudutkan Iran dengan menerapkan sanksi ekonomi sebagai senjata penekannya. Dengan harapan, strategi gunboat diplomacy tersebut akan mengarah pada terciptanya kompromi win-win solution melalui meja perundingan. Namun pemerintah Iran menolak.

Sekarang, apapun sasaran sesungguhnya dari Trump, tidak penting lagi. Iran telah berhasil mempertunjukkan dominasi militernya pasca penembakan Drone RQ-4 Global Hawk.

Dalam situasi seperti itu, reaksi Trump menarik kita tunggu. Apakah akan melancarkan serangan militer kepada Iran sebagai tindakan balasan atas penembakan pesawat Drone aset strategis angkatan udara Amerika itu, sehinggi berpotensi menurunkan popularitasnya pada pemilu presiden AS untuk periode kedua mendatang.

Opsi kedua, Trump akan mencabut sanksi ekonomi yang telah merugikan rakyat Iran tersebut. Kedua opsi tersebut, sama sekali bukan pilihan bagus buat Trump.Bahkan menurut artikel yang juga dilansir oleh situs https://www.moonofalabama.org/2019/06/iran-shoots-down-strategic-us-drone-is-ready-for-war-puts-maximum-pressure-on-trump-.html , Trump bisa juga memilih opsi ketiga. Yaitu memandang enteng insiden penembakan pesawat Drone AS sebagai hal yang tidak terlalu penting dan tak perlu dibesar-besarkan.

Namun jika langkah ini diambil, pada perkembangannya akan memicu serangan dari politisi-politisi sayap kanan dan ultra-nasionalis di kongres maupun beberapa media massa arus utama yang umumnya sehaluan dengan garis politik Hillary Clinton dan Partai Demokrat. Sementara Iran semakin merasa unggul di atas angina, sehingga justru dalam posisi yang lebih menguntungkan untuk melancarkan tekanan diplomatik kepada pemerintahan Trump. Karena telah melanggar kedaulatan udara Iran.

Dalam skenario opsi ketiga ini, mengingat watak Trump yang sejatinya merupakan pebisnis daripada politisi, bukan tidak mungkin presiden AS itu akan membiarkan Cina, Jepang dan India serta Korea Selatan, untuk mengimpor minyak dari Iran. Sehingga situasi itu justru menjadi prakondisi bagi AS dan Iran, untuk memulai kembali perundingan bilateral AS-Iran atas dasar semangat yang sama ketika Obama dan Rouhani mencapai kesepakatan dalam perundingan senjata nuklir beberapa tahun yang lalu.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments