Perang Dagang Trump Terhadap Cina Usai Sudah

Bagikan artikel ini

Perang dagang yang dilancarkan Presiden AS Donald Trump terhadap Republik Rakyat Cina nampaknya gagal total. Tom Luongo, seorang analis ekonomi politik dari North Florida, Amerika Serikat, menerbitkan sebuah artikel yang bertajuk:

Trump’s Trade War is Already Over

Menurut Tom Luongo, Trump pada kenyataannya tidak memiliki keunggulan sama sekali dalam perang lewat meja perundingan menghadapi Cina. Andaikan pihak Amerika memang punya leverage/keunggulan komparatif terhadap Cina, bisa dipastikan negeri tirai bamboo tersebut akan menyetujui kesepakatan yang disodorkan Trump.

Kenyataannya Trump memang tidak punya leverage sama sekali terhadap Cina. Namun Luongo berkeyakinan para pejabat penting di Gedung Putih sama tidak peduli dengan kondisi obyektif yang melemahkan pihak Amerika tersebut. Jika mengikuti pola pikir yang lazim selama ini namun sebenarnya rada naïf, bahwa dalam permainan politik tingkat tinggi yang melibatkan negara-negara adikuasa. Satu negara yang berhasil memenangkan perang dagang terhadap negara pesaingnya, berarti kekalahan bagi pesaingnya.

Namun dalam kenyataannya tidak mesti begitu. Dalam transaksi dagang, tidak berlaku yang namnya zero sum game. Seringkali yang berlaku adalah win-win solution antara pembeli dan penjual. Tulis Luongo: “ Ideally, all voluntary trade is a win-win scenario for both the buyer and the seller. If it wasn’t the trade would not be made. Lost in the numbers is the comparative perceived value of the exchange.”

Selain itu, secara faktual Cina saat ini masih mengalami surplus dalam kerjasama perdagangan dengan Amerika. Namun dari sudut pandang Amerika, ketidakseimbangan neraca perdagangan antara AS dan Cina, lebih disebabkan oleh borosnya pengeluaran keuangan boros yang dilakukan oleh Trump.

Saat ini Trump mengalami defisit perdagangan dengan Cina sebesar satu triliun dolar AS. Pertanyaannya, kemana larinya uang 1 triliun dolar AS tersebut? Ke bulan atau ke Laos? Tidak. Ke Cina. Gimana penjelasannya. Begini tulis Luongo:

It goes to China. It also finds its way into the US equity market Trump is so in love with and other places that produce goods that we Americans buy with that money. If Trump wants to win the trade war with China he should consider spending a little less money allow consumer prices here in the States to fall and let his tax cuts continue to attract capital for the right reasons – the value the American work force is capable of generating.”

Tapi kenyataannya Trump tidak menerapkan kebijakan sebagaimana analisis Luongo. Malah memungut bea masuk barang-barang Cina sebesar 10 persen pada tahun lalu. Hal ini malah semakin memperbesar defisit perdagangan AS terhadap Cina.

Lebih dari itu, Cina kemudian merespons manuver Trump dengan mendepresiasi mata uang Yuan hingga 10 persen. Hal ini dilakukan Cina untuk melindungi eksportir dalam negeri. Seraya membantu beberapa bank di Cina yang rentan mengalamai penurunan, agar bank-bank tersebut tetap liquid. Melalui Bank Sentral Cina.

Mengutip lebih lanjut Tom Luongo:

China’s not going to implode over these tariffs. It will give Xi and his central bank the opportunity to devalue the yuan in response to the slower flow of dollars. It has to protect the lion’s share of its trade with Southeast Asia and Europe whose currencies are already in trouble.

And it will bail out the most strategically-sensitive banks and businesses over-exposed to them. It’s what they did last year in response to the 10% tariff and it is what will happen this time.”

Bagaimanapun juga, Cina berupaya melindungi kepentingan dagangnya di Asia Tenggara dan Eropa. Sehingga kebijakan pemerintah Cina dalam mendevaluasi Yuan tidak berada di ruang hampa. Mata uang euro menurun 13 persen seperti juga rupiah Indonesia, Ringgit Malaysia atau Baht Thailand.

Ketika Trump dan Gedung Putih coba mengancam Cina untuk melucuti kedaulatan ekonominya atau mendapat sanksi ekonomi dari AS. Cina membalas dengan menghentikan pembelian kedelain maupun produk-produk ekspor pangan lainnya. Alhasil setahun kemudian, beberapa petani AS mengalami kebangkrutan akibat tidak ada ekspor produk-produk tersebut ke Cina. 

Facebook Comments