Membaca Perubahan Sifat dan Bentuk Ancaman Kedaulatan Negara

Bagikan artikel ini

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Bangsa ini tidak boleh abai atas perubahan ancaman terhadap kedaulatan negara. Jangan sekali-kali lengah sedikitpun. Terus gelorakan kewaspadaan nasional sesuai tren global. Kenapa begitu, bahwa di Abad ke 21 ini, ancaman kedaulatan terhadap sebuah negara tak (lagi) hanya dari aspek militer, tetapi juga nirmiliter atau asimetris.

Dalam diskursus keamanan kontemporer, ancaman nirmiliter bisa menjelma dalam beragam jenis dan betuk, seperti agresi pangan dalam bentuk impor contohnya, atau cipta kondisi (cipkon) ketergantungan energi, pencemaran lingkungan, infiltrasi ideologi, atau budaya dan lain-lain. Mungkin inilah konsekuensi logis atas lingkungan strategis yang bergerak yakni perubahan power concept (pemakaian kekuatan) dalam praktik geopolitik. Ya, perilaku geopolitik para adidaya sekarang tidak lagi menonjolkan peran militer dalam meluaskan ruang (living space) alias lebensraum, namun cenderung memilih power ekonomi pada lini depan. Artinya bahwa pola, modus, dan strategi implementasi pun niscaya berubah pula.

Jika dulu Irak ditarget Barat melalui isu senjata pemusnah massal, kemudian berlanjut (tema) invasi militer koalisi pimpinan Amerika/AS ke Irak, sedangkan (skema) ujungnya ternyata kavling-kavling minyak di antara negara agresor itu sendiri. Di era kini, modus dan pola klasik tersebut sudah tentu berubah, lebih soft bahkan tanpa hingar-bingar namun skema alias muaranya tetap sama yakni mencaplok geoekonomi negara target. Contohnya, untuk meluaskan impor di sebuah negara cukup ditebar isu flu burung misalnya, kemudian (diopinikan) temanya adalah daging mahal/langka, dan ujungnya kran impor pun dibuka lebar-lebar. Bukankah impor itu bermakna selain tercipta ketergantungan kepada negara lain, juga menggerus devisa negara. Itulah pola silent invasion. Isu – Tema – Skema (ITS). Pola ITS ini merupakan antitesa dari military invasion yang penuh asap mesiu. Tatkala sebuah negara melakukan impor beras dan/atau komoditas lain dikala petaninya tengah panen raya, itulah naked invasion. Invasi asimetris namun terang-terangan. Terbuka. Bukannya kebetulan tapi inilah sintesa atas military invasion. Antitesa dari silent invasion. Inilah salah satu trend global yang mutlak harus dijadikan obyek kewaspadaan nasional.

Bila zaman Orde Lama meletakkan kewaspadaan nasional di luar pagar NKRI dengan neoimperialisme-neokolonialisme sebagai common enemy, tapi “bobol” di dalam karena PKI menusuk dari sisi internal; jika Orde Baru menempatkan kewarpadaan nasional di dalam pagar rumah NKRI dengan PKI sebagai musuh bersama, namun “jebol” dari luar oleh virus neolib. Jangan melupakan sejarah, kata Bung Karno. “Jas Merah”.

Merujuk hal-hal di atas, kira-kira siapakah yang seyogianya menjadi musuh bersama bangsa di era kini agar kedaulatan NKRI tidak tergerus sebagaimana orde-orde terdahulu?

Silahkan saudara-saudara merenunginya.

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com