Antara Radikalisme dan Isu Imajiner

Bagikan artikel ini
Sesi Belajar Geopolitik
Tulisan ini, sebenarnya sambungan catatan terdahulu yang bertopik: Stigma Bergerak (Baca: Antara Radikalisme dan Stigma Bergerak). Mengingat waktu terbatas maka narasinya dipisah. No problem. Nah, sesuai judul — kini membahas radikalisme dari sudut (isu) imajiner.
Ya, imajiner sebagai isu hampir sama dengan stigma (isu) bergerak. Artinya, selain belum ada definisi baku sehingga perlu keterangan dan peristiwa riil di lapangan agar jelas secara pengertian, juga peran media mem-framing isu ini begitu vital dalam membentuk opini dan persepsi publik.
Secara sepintas, isu ini mirip teori “pengalihan isu”-nya Talcott Parsons, dimana inti teori Parsons ialah upaya mengalihkan isu strategis —persoalan hulu bangsa— dengan cara menggebyarkan isu sektoral supaya publik tergiring pada hal-hal yang bersifat hilir —nonstrategis— residu, atau ecek-ecek, berharap publik lupa terhadap isu hulu. Itu maksud (dan tujuan) pengalihan isu.
Dikorupsinya bantuan sosial (bansos) untuk rakyat yang terdampak pandemi, contohnya, kendati hal ini termasuk isu strategis toch dengan mudah dialih-isukan cuma via gebyar video porno artis. Dan publik pun lalai pada hal pokok (isu korupsi bansos). Itu satu misal, banyak contoh lain.
Kendati ada kemiripan antara isu imajiner dengan pengalihan isu ala Parsons, namun secara materi berbeda substansi. Isu imajiner lebih kepada eksploitasi isu non-riil, ciptaan, atau isu berbasis rekayasa yang bersifat tak nyata dan bukan faktual. Sedang pengalihan isu ala Parsons berbasis data faktual serta fakta riil. Selanjutnya fakta tadi digelorakan secara masif melalui media, terutama media arus utama atau mainstream media.
Di dunia intelijen dan politik praktis, padanan istilah yang agak identik dengan isu imajiner disebut false flag operation (operasi bendera palsu), ataupun demonologi politik. Poin inti kedua terminologi tadi sama, yakni meng-“hantu”-kan entitas tertentu pada satu sisi, dan meng-“hero“-kan golongan lain di sisi berbeda. Selanjutnya, demonologi dan/atau false flag operation tadi dijadikan pijakan atau basis pertimbangan kebijakan suatu rezim untuk memposisikan si “hantu” selaku common enemy (musuh bersama).
Isu Dewan Jenderal tempo doeloe, ini contoh, sebagai isu imajiner di masa Orde Lama relatif berhasil. Kenapa? Akibat kuatnya isu bertiup, PKI pun terpancing, lalu (mendahului) melakukan tindakan biadab terhadap para jenderal. Inilah big blunder PKI. Padahal secara faktual, isu Dewan Jenderal tidak riil, fiktif, dan ia hanya ciptaan asing alias (isu) imajiner. Inilah contoh isu imajiner yang memetik sukses, sebab si obyek/target mengikuti irama gendang yang ditabuh oleh (asing) si pembuat isu. Gilirannya, akibat kebiadabannya PKI pun diberantas, dan di era Orde Baru komunisme menjadi paham terlarang melalui TAP MPRS XXV/1966.
Selanjutnya contoh false flag operation di tingkat global ialah tragedi 9-11/WTC. Betapa peristiwa tersebut membidani apa yang disebut “teroris” sebagai musuh bersama baik di level global, regional maupun di tingkat lokal/nasional. Mengapa? Karena di Indonesia dulu (sebelum terjadi terjadi 9-11/WTC) jarang ditemui frasa teroris atau terorisme. Diksi yang familiar saat itu ialah sabotase, sebab tindakan sabotase cenderung kedaerahan, bersifat sporadis dan tidak mengglobal. Contoh kasus Imron Cs yang membajak pesawat hingga ke Bangkok, toch peristiwa itu dahulu cuma disebut sabotase, bukan terorisme.
Nah, terkait judul tulisan ini, pertanyaannya yang muncul ialah: “Radikalisme sebagai isu aktual kini tergolong jenis yang mana; pengalìhan isu ala Parsons, atau isu imajiner?”
Ya. Maksud pengalihan isu adalah menutup persoalan hulu bangsa (isu strategis) dan menggiring publik untuk menelan isu lokal agar publik abai terhadap isu strategis, beralih ke isu-isu residu di hilir persoalan bangsa.
Retorika filosofinya begini, pertama: “Apakah radikalisme menyebabkan kemiskinan meningkat dan/atau mengakibatkan defisit APBN?” Retorika ini tidak usah dijawab agar catatan ini bisa dilanjutkan. Retorika kedua: “Bagi bangsa dan negara, lebih urgen mana isu radikalisme atau isu penguasaan SDA oleh asing?” Let them think let them decide.
Kini membahas isu imajiner. Radikalisme sebagai konsep global yang distigmakan pada golongan di Islam, bukanlah berdiri sendiri. Mengapa begitu? Karena RAND Corporation, think tank Pentagon, membagi Islam dalam empat golongan yaitu Islam (radikal), fundamental, modern dan Islam (tradisional).
Bersambung…
M Arief Pranoto, Research Associate Global Future Institute (GFI)
Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com