Data Covid-19 Meragukan, Kepanikan Meyakinkan

Bagikan artikel ini

Di banyak negara termasuk AS, tidak ada tes laboratorium yang tepat dalam mengidentifikasi COVID-19 sebagai penyebab infeksi positif. Sementara itu media tidak hanya mengutip statistik yang tidak dapat diandalkan, namun juga meramalkan skenario bencana global.

Namun, kontradiksi pun muncul seiring dengan adanya pemberitaan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, “mereka yang yang terinfeksi umumnya mengalami penyakit ringan dan sembuh dalam waktu sekitar dua minggu.”

Juga menurut WHO dan John Hopkins Medicine (lihat di bawah), risiko kematian akibat influenza lebih tinggi daripada dari COVID-19.

Mari kita kembali ulas COVID-19. Apa itu Human Coronavirus. Coronavirus ada di mana-mana. Mereka dikategorikan sebagai penyebab utama kedua dari flu biasa (setelah rhinovirus). Sejak wabah SARS 2003 (coronavirus syndrome pernafasan akut yang parah), beberapa virus korona (baru) diidentifikasi. COVID-19 dikategorikan sebagai novel atau virus korona baru yang awalnya bernama SARS-CoV-2.

Menurut Dr. Wolfgang Wodarg, pneumonia adalah “secara teratur disebabkan atau disertai oleh virus korona”. Dan itu telah menjadi kasus selama bertahun-tahun sebelum identifikasi COVID-19 pada Januari 2020.

Ini adalah fakta yang diketahui umum bahwa dalam setiap “gelombang flu” 7-15% dari penyakit pernapasan akut (ISPA) datang bersamaan dengan virus corona

COVID-19 milik keluarga coronavirus yang memicu pilek dan influenza musiman. Di sini perlu juga dijelaskan tes laboratorium yang memperkirakan data serta penyebaran COVID-19. WHO mendefinisikan COVID-19 sebagai berikut:

“Gejala yang paling sering dilaporkan [COVID-19] termasuk demam, batuk kering, dan sesak napas, dan sebagian besar pasien (80%) mengalami penyakit ringan. Sekitar 14% mengalami penyakit parah dan 5% sakit kritis. Laporan awal menunjukkan bahwa tingkat keparahan penyakit terkait dengan usia (> 60 tahun) dan penyakit bawaan.” (sebagian besar didasarkan pada penilaian WHO terhadap COVID-19 di Cina).

New England Journal of Medicine (NEJM) dalam artikel berjudul Covid-19 – Navigating the Uncharted memberikan definisi “Konsekuensi klinis keseluruhan dari Covid-19 pada akhirnya mungkin lebih mirip dengan influenza musiman yang parah (yang memiliki tingkat fatalitas kasus sekitar 0,1%) atau pandemi influenza (mirip dengan yang terjadi pada tahun 1957 dan 1968) daripada penyakit serupa seperti SARS atau MERS, yang memiliki tingkat fatalitas kasus masing-masing 9 hingga 10% dan 36%.”

Penilaian ini menegaskan bahwa COVID-19 mirip dengan influenza musiman dan pneumonia, yang dikategorikan sebagai infeksi pernapasan menular. Jika definisi di atas menjadi berita utama, maka tidak perlu ada rasa takut dan panik.

Pengumpulan Data Terkait Pandemi H1N1 2009 dan Covid-19

Ini bukan pertama kalinya darurat kesehatan global dikeluarkan oleh WHO dalam kaitannya dengan Big Pharma. Pada tahun 2009, WHO meluncurkan Pandemi Flu babi H1N1 yang meramalkan bahwa “sebanyak 2 miliar orang dapat terinfeksi selama dua tahun ke depan – hampir sepertiga dari populasi dunia.”

Satu bulan kemudian Direktur Jenderal WHO Dr. Margaret Chan menyatakan bahwa “Pembuat vaksin dapat menghasilkan 4,9 miliar suntikan flu pandemi per tahun dalam skenario terbaik”, (Margaret Chan, Direktur Jenderal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sambil menciptakan suasana ketakutan dan rasa tidak aman, menyusul adanya krisis kesehatan publik global yang akan datang, WHO tetap mengakui bahwa gejala H1N1 masih moderat dan bahwa “kebanyakan orang akan pulih dari flu babi dalam seminggu, sama seperti yang mereka lakukan tentang bentuk influenza musiman. ” (Lihat Mickey Huff, Peter Phillips, Project Censored, Censored 2011: The Top 25 Censored Stories of 2009-10, New York: Seven Stories Press, 2010).

Sementara Dewan Penasihat Sains dan Teknologi Presiden Obama menyatakan dengan tegas, sembari “meyakinkan opini publik” bahwa “pandemi H1N1 adalah ancaman kesehatan yang serius … bagi AS – tidak seserius pandemi flu Spanyol tahun 1918 tetapi lebih buruk daripada wabah flu babi. 1976.”

Data Palsu H1N1

Dalam banyak hal, pandemi H1N1 2009 mengungkapkan masalah pengumpulan data dan analisis yang kita hadapi saat ini terkait dengan COVID-19. Setelah muncul wabah flu babi H1N1 di Meksiko, pengumpulan data pada awalnya sangat sedikit dan tidak lengkap, sebagaimana dikonfirmasi oleh pernyataan resmi. Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) yang berbasis di Atlanta mengakui bahwa apa yang dikumpulkan di AS adalah angka “kasus yang terkonfirmasi dan (masih) kemungkinan”. Bahkan, hanya sebagian kecil dari kasus yang dilaporkan “terkonfirmasi” oleh tes laboratorium.

Tidak ada upaya untuk meningkatkan proses pengumpulan data dalam hal konfirmasi lab. Padahal justru sebaliknya. Setelah pengumuman Pandemi level 6 oleh Dr. Margaret Chan, WHO dan CDC memutuskan, pengumpulan data dari kasus yang terkonfirmasi dan masih kemungkinan tidak lagi diperlukan untuk memastikan penyebaran flu babi. Satu bulan setelah pengumuman pandemi level 6, WHO menghentikan pengumpulan “kasus yang terkonfirmasi”. Dengan demikian, hal ini tidak mengharuskan negara-negara anggota untuk mengirim angka terkait kasus yang teronfirmasi atau masih kemungkinan. WHO, Briefing note, 2009)

Berdasarkan data yang tidak lengkap, sedikit dan tertekan, WHO memperkirakan dengan tegas bahwa: “sebanyak 2 miliar orang dapat terinfeksi selama dua tahun ke depan – hampir sepertiga dari populasi dunia.”

“Kasus Terkonfirmasi” dan Metodologi CDC

Metodologi CDC pada tahun 2020 secara luas serupa (dengan perubahan kecil dalam terminologi) dengan yang diterapkan pada pandemi H1N1 pada tahun 2009. “kasus yang mungkin” digantikan oleh “kasus dugaan”.

Menurut CDC, data yang disajikan untuk AS mencakup kasus positif “terkonfirmasi” dan “dugaan” COVID-19 yang dilaporkan ke CDC atau diuji di CDC sejak 21 Januari 2020″. Data positif dugaan tidak mengkonfirmasi infeksi coronavirus: Pengujian dugaan melibatkan “analisis kimia dari sampel yang menetapkan kemungkinan bahwa suatu zat muncul”. Tapi itu tidak mengkonfirmasi keberadaan COVID-19. Tes dugaan kemudian harus dikirim untuk konfirmasi ke laboratorium kesehatan pemerintah yang terakreditasi. (lebih lanjut lihat: Michel Chossudovsky, Spinning Fear dan Panic Across America. Analysis of COVID-19 Data, March 20, 2020). Sekali lagi, gejala-gejala yang selama ini diklaim sebagai COVID-19 seperti batuk dan demam tidak spesifik dan dapat terjadi dengan banyak kondisi selain COVID-19.

Dengan demikian, ada sejumlah pertanyaan yang perlu ajukan di sini. Pertama, tes laboratorium CDC terkait dengan CC (kasus yang terkonfirmasi) itu dimaksudkan untuk mengkonfirmasi adanya infeksi. Tetapi apakah itu menyatakan bahwa infeksi tersebut disebabkan oleh COVID-19?

Kedua, COVID-19 adalah virus corona yang dikaitkan dengan gejala luas influenza musiman dan pneumonia. Apakah tes laboratorium yang berkaitan dengan COVID-19 (kasus yang terkonfirmasi) dalam posisi untuk memastikan prevalensi infeksi positif COVID-19?

Ketiga, apakah COVID-19 bisa menjadi sumber infeksi aktif ketika infeksi tersebut bisa disebabkan oleh virus dan / atau bakteri lain?

Keempat, apakah tes dilakukan di AS sejak Januari 2020 yang mengkonfirmasi infeksi dari satu atau lebih penyebab (tanpa bukti COVID-19) dimasukkan dalam bank data CDC sebagai “kasus terkonfirmasi” COVID-19?

Sebagai informasi tambahan terkait pertanyaan akan derajat ketepatan atau akurasi tes terkait COVID-19, lihat Are Coronavirus Tests Accurate?, Accuracy of Coronavirus Tests atau Are coronavirus tests flawed? dan masih banyak lagi.

Itulah sederet pertanyaan yang butuh penyelidikan lebih mendalam, dan selama ini jawaban atas sejumlah pertanyaan di atas belum bisa dihadirkan secara akurat dan meyakinkan, meski oleh otoritas yang paling berwenang sekali pun.

Sudarto Murtaufiq, peneliti senior Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com