Geopolitik Khuldi 

Bagikan artikel ini

Dalam cerita buah Khuldi di Al Qur’an ada hikmah (geo) politik dan terdapat pembelajaran hidup bagi manusia.

Adapun poin inti pembelajaran tersebut, antara lain yaitu:

(1) agar manusia selalu ingat bahwa asal-usul atau nenek moyangnya adalah penghuni syurga; dan

(2) seyogianya manusia wajib  mencari dan memilih jalan (lurus) hidup agar kelak bisa balik ke syurga daripada salah tujuan ketika kembali nanti.

Maka sungguh aneh ketika sebagian manusia justru senang terhadap jalan ke neraka daripada memilih jalan syurga nan hijau. Memang. Jalur ke neraka selain “happy,” seolah mudah, tidak terjal, juga rute pintas itu menggoda dengan segala kemewahan kendati semu.

Dan melalui cerita Khuldi pula, kita mengerti bahwa iblis ternyata mengetahui terlebih dulu —rahasia Khuldi— dan lebih memahami segala sesuatu daripada manusia/Adam.

Di sini, learning point yang dapat diambil, bahwa iblis itu lebih cerdas daripada manusia. Dengan kata lain, apabila manusia tidak ingin terjebak bujuk rayu iblis, maka ia harus mempunyai sisi lain (counter) yang tidak dimiliki oleh iblis. Kenapa? Karena visi, misi dan tupoksi iblis ialah menggoda iman manusia serta membawa sebanyak-banyaknya anak cucu Adam masuk neraka. Itu sudah janji dan tugas pokok si iblis.

Lantas, referensi macam apakah yang kelak bisa dijadikan strategi kontra dalam menghadapi kecerdasan iblis agar manusia terlepas dari godaan dan mampu menguak propaganda iblis?

Bermodal kecerdasan manusia? Lho, bukankah iblis adalah makluk paling cerdas di alam semesta? Ini mungkin, bahwa secerdas-cerdasnya manusia adalah sebodoh-bodohnya iblis. Lalu, apa mau mengandalkan kesaktian? Sedang iblis makluk paling sakti juga. Jadi, tidak lain dan tak bukan adalah meningkatkan wawasan dan kesempurnaan. Ini kodrat serta takdir manusia dalam hidup dan kehidupan.

Dua sisi ini — wawasan dan kesempurnaan— tidak dimiliki oleh iblis. Kenapa demikian, bahwa di antara makluk Tuhan lain seperti malaikat, misalnya, atau jin, wewe gombel, manusia dan seterusnya iblis-lah yang paling cerdas. Kecerdasan malaikat paling bawah, namun dalam hal kepatuhan ia nomor satu. Paling tinggi. Manusia tidak lebih cerdas daripada jin, tetapi manusia dinilai paling sempurna dan mempunyai wawasan luas karena dibekali akal dan nafsu. Maka secerdas apapun manusia, pasti bisa tergoda oleh bujuk rayu si iblis.

Maka Adam dahulu —sebelum turun ke bumi— mampu menyebut “nama-nama” ketika diuji oleh Tuhan sedang makhluk lain tak mampu menjawab, termasuk iblis. Itulah bukti keluasan wawasan manusia/Adam.

Secara hakiki, perintah sujud kepada Adam ialah supaya makluk lainnya wajib hormat terhadap keluasan wawasan dan kesempurnaan ciptaan-Nya. Tak lebih. Akan tetapi, penolakan sujud kepada manusia didasari persepsi keliru bahwa iblis merasa lebih mulia karena dicipta dari api, sementara Adam berasal dari tanah. Kalaupun kelak masuk neraka, ia akan menjadi raja karena neraka ialah api yang menyala-nyala. Itu persepsi iblis. Tapi inilah blunder pertama iblis. Selain ia “merasa lebih,” itu salah satu keangkuhan yang membuatnya jatuh dalam kehinaan, juga judgment iblis hanya berbasis persepsi, bukan data, tidak pula informasi valid tentang neraka dan diri Adam, oleh karena bahan baku neraka ternyata bukan api, tetapi manusia dan batu.

Selanjutnya jalan untuk meraih wawasan adalah belajar filsafat dan geopolitik meski terbilang banyak tata cara lainnya. Dan dalam geopolitik terselip unsur sejarah, budaya dan filsafat. Sedangkan untuk meraih kesempurnaan diperoleh dengan menjalankan perintah dan menghindari laranganNya. Tidak ada kesombongan selain patuh dan patuh, Tuhan ada maksud di setiap kehendak dan tidak mungkin dipahami oleh makhluk-Nya. Dan sesungguhnya, Dia Mahahalus dalam setiap skenario.

Nah, apabila cerita di atas dianalogi pada kehidupan berbangsa dan bernegara, maka seyogianya negara manapun, misalnya, tanpa pemahaman filosofi serta geopolitik, akan mudah diombang-ambingkan oleh isu-isu hilir yang sejatinya merupakan ciptaan (kecerdasan) iblis, sedang hal itu bukanlah isu utama, bukan persoalan hulu sebuah bangsa. Gilirannya, negara yang dimaksud terjebak dalam “politik glamour”, terlihat mewah dan gaduh di atas permukaan tetapi tidak menyentuh sama sekali ke persoalan hulu bangsa, contohnya, masalah bangsa ini tentang kemiskinan tak bertepi namun yang digaduhkan justru soal radikalisme, isu HAM dan lain-lain. Itu hanya satu contoh, masih banyak permisalan lainnya. Maknanya, bangsa ini cuma digaduhkan dengan musuh-musuh imajiner ciptaan “iblis”, sehingga bangsa ini tak mampu melihat persoalan yang sesungguhnya berlangsung. Dalam (geo) politik, apa yang terjadi bukanlah yang sejatinya berlangsung. Ada deception lazim, ada penyesatan tingkat tinggi. Butuh wawasan agar tak salah dalam membaca.

Retorikanya selidik muncul, “Bagaimana mampu menyelesaikan persoalan bangsa, sedang “inti” masalah saja engkau tak tahu?”

Dalam Geopolitik Cicero, misalnya, dinyatakan bahwa keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi di sebuah negara. Artinya, keselamatan lebih utama daripada pertumbuhan ekonomi (segelintir orang); keselamatan lebih urgen daripada kecerdasan dan kenyamanan dan seterusnya. Idealnya memang ada keseimbangan antara keselamatan dan kesejahteraan rakyat.

Salus populi suprema lex esto, kata filsuf Cicero (106 SM – 45 SM). Maknanya, tatkala negara cq rezim saat itu dihadapkan pilihan kebijakan dalam kondisi tertentu mana prioritas antara keselamatan atau kesejahteraan, atau pilihan lainnya? Jawabannya adalah keselamatan adalah prioritas/utama.

Inilah simpulan Geopolitik Khuldi, dimana sebuah bangsa mutlak harus memperluas dan menyempurnakan wawasan agar tidak terjebak oleh tipu daya (negara) iblis, baik state actor maupun non-state actor.

Demikianlah adanya, demikian sebaiknya.

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com