Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Ekonomi & Bisnis

Kerjasama Strategis Indonesia-Eurasian Economic Union (EAEU) Bisa Menjadi Kekuatan Keseimbangan Baru Menghadapi Hegemoni AS-Uni EropaAS-Uni Eropa

Hendrajit

Hendrajit·13 Mei 2023·4 menit baca

Bagikan
Kerjasama Strategis Indonesia-Eurasian Economic Union (EAEU) Bisa Menjadi Kekuatan Keseimbangan Baru Menghadapi Hegemoni AS-Uni Eropa

Pada Maret 2021 lalu saya di situs ini pernah menulis sebuah isu strategis terkait prakarsa Indonesia dalam menawarkan sebuah terobosan baru dalam kerjasama internasional: Mendorong terciptanya mekanisme kerjasama ekonomi dengan negara-negara di Kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah yang tergabung dalam Eurasian Economic Union (EAEU), melalui proses pembentukan Free Trade Agreement (FTA) RI-EAEU.

Dalam artikel yang saya tulis dua tahun lalu itu, saya berpandangan bahwa jika skema kerjasama ini akan dapat terwujud, maka merupakan sebuah keuntungan strategis bagi kepentingan nasional Indonesia, khususnya dalam upaya mendorong perluasan pasar ekspor Indonesia serta peningkatan kerja sama perdagangan Indonesia secara terintegrasi dengan EAEU.

Berarti, EAEU bisa kita baca sebagai sarana alternatif agar Indonesia ke depan tidak tergantung pada Amerika Serikat dan Uni Eropa. Bahkan bisa menjadi kekuatan penyeimbang dalam kerangka menciptakan strategi perimbangan kekuatan menghadapi AS dan blok Barat Uni Eropa.

Baca: Kerjasama Indonesia dan Negara-Negara Kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah (EAEU) Cukup Strategis Mengimbangi AS dan Uni Eropa

Maka itu kita patut bergembira ketika pada April 2023 Indonesia dan Eurasia telah menyelesaikan Putaran Pertama Perundingan Indonesia-EAEU yang berlangsung pada 3-5 April 2023 lalu di Jakarta. Dalam forum pertemuan yang berlangsung konstruktif dan produktif tersebut Delegasi Indonesia dipimpin oleh Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan Johni Martha selaku Ketua Negosiator Indonesia, Adapun dari Delegasi EAEU dipimpin Head of Division for Special Issues in Trade Regulation, Trade Policy Department Anton Tsetsinovskiy sebagai Ketua Negosiator EAEU.

Kita sudah seharusnya memandang ini sebagai langkah awal yang cukup menggembirakan mengingaat fakta bahwa Putaran Pertama Perundingan Indonesia-EAEU pada 3-5 April 2023 lalu merupakan tindak-lanjut dari perundingan Indonesia-EAEU yang diluncurkan secara resmi oleh Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan dan Menteri Perdagangan Eurasian Economic Commission Andrev Slepnev pada 5 Desember 2022 lalu. Yang mana peluncuran tersebut ditandai dengan penandatanganan Join Ministerial Statement on the Launch of the Negotiation on Free Trade Agreement between the Eurasian Economic Union and the Republic of Indonesia.

Indonesia Perkuat Kerja Sama Ekonomi Dengan Negara Negara Kawasan Eropa Timur Dan Asia Tengah | Portal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia

Pihak Indonesia maupun Eurasia nampaknya punya pemahaman yang sama mengenai nilai strategis dari the Eurasian Economic Union ini.  EAEU yang beranggotakan Rusia, Kazakhstan, Belarus, Kyrgyzstan, dan Armenia, merupakan negara-negara yang kaya akan sumberdaya alam, hasil pertanian, serta memiliki keunggulan teknologi dengan potensi pasar yang besar.

Hal ini senada dengan pernyataan Johni Martha bahwa EAEU sebagai mitra dagang nontradisional Indonesia yang punya potensi besar, dengan total populasi sebesar 183 juta jiwa dan nilai produk domestic bruto mencapai 2,04 triliun dolar AS. EAEU dengan demikian dapat menjadi hub produk-produk Indonesia di kawasan Asia Tengah dan Eropa Timur.

Maka itu Putaran Pertama Perundingan Indonesia-EAEU FTA bukan saja merupakan langkah awal yang strategis bagi Indonesia untuk Penetrasi Pasar Eurasia, melainkan juga akan menjadi sebuah terobosan baru Indonesia dalam membuka berbagai kemungkinan baru dalam kerjasama internasional.

Apalagi trend global akhir-akhir ini menunjukkan bahwa negara-negara blok Barat (AS dan Uni Eropa) semakin protektif menolak masuknya produk-produk ekspor negara-negara Asia seperti Jepang, Cina, India, dan tentunya juga pada perkembangannya akan membawa efek buruk juga bagi peningkatan ekspor Indonesia ke depan jika terlalu menggantungkan diri pada AS dan Uni Eropa.

Maka itu seperti tersurat dalam siaran pers Kementerian Perdagangan terkait event April lalu, sangat tepat ketika dalam Perundingan Indonesia-EAEU membentuk 11 kelompok kerja (Working Group) yang menangani perdagangan barang; perdagangan digital; ketentuan legal dan isu institusional; pengamanan perdagangan; hambatan teknis perdagangan; kerjasama; pengamanan perdagangan, sanitasi dan fitosanitasi, serta hak kekayaan intelektual.

Dengan mencakup 11 kelompok kerja tersebut terlihat baik Indonesia maupun Eurasia secara sungguh-sungguh berupaya menyatukan visi dan misi dari EAEU dengan kebijakan nasional Indonesia sehingga tercipta saling memahami posisi masing-masing negara terkait isu-isu yang jadi materi perundingan antara Indonesia dan EAEU.

Dari perspektif kepentingan nasional Indonesia,  Jika skema kerjasama Indonesia-EAEU tersebut dapat terwujud sesuai rencana, maka Indonesia dapat membuka peluang perluasan pasar nontradisional sebagai bagian integral dari strategi perdagangan nasional.

Pada tataran yang lebih strategis lagi, akan membuka jalan bagi Indonesia untuk ikut berperan dalam upaya menciptakan integrasi ekonomi global bersama-sama dengan mitra-mitra barunya dari negara-negara kawasan Eropa Timur maupun Asia Tengah. Sehingga bisa menjadi kekuatan global alternatif dalam percaturan ekonomi dan perdagangan internasional.

Dit. Eropa 3 Kemlu RI on Twitter: "Direktur Eropa III @awicaksono memberi paparan prospek kerjasama RI-Eurasian Economic Union (EAEU) kepada kalangan pemerintah dan pebisnis di Hotel Hermitage, Jakarta (6/2)… https://t.co/khEm49aWoV"

Perkembangan terkini menyusul keberhasilan Putaran Pertama Perundingan Indonesia-EAEU FTA April 2023 lalu, bisa dipastikan merupakan berita buruk yang tidak menyenangkan bagi AS maupun sekutu-sekutu strategisnya yang tergabung dalam blok ekonomi Barat Uni Eropa.

Selain itu, ini merupakan sebuah gagasan alternatif yang cukup cerdas dan menjanjikan, di tengah semakin kuatnya larangan masuknya barang-barang dan produk ekspor negara-negara Asia ke Eropa Barat dan AS  akhir-akhir ini.

Apalagi ketika AS maupun Uni Eropa seringkali melancarkan serangan politik dengan mengangkat isu demokratisasi politik, hak-hak asasi manusia dan lingkungan hidup, sebagai alat tekan dalam memaksakan arah kepentingan dan kerangka hubungan ekonomi dan perdagangannya terhadap negara-negara yang sedang berkembang, khususnya negara-negara di kawasan Asia.

Sedangkan dalam menjalin kerjasama internasional dalam bidang perdagangan dalam kerangka EAEU, tanpa didasari syarat-syarat politik atau politisasi isu-isu demokrasi maupun hak-hak asasi manusia seperti halnya yang dilakukan AS dan Uni Eropa.

Maka itu sudah seharusnya Indonesia maupun EAEU semakin berkomitmen mewujudkan skema kerjasama kedua belah pihak secepat mungkin. Sehingga baik Indonesia maupun EAEU juga berkomitmen untuk segera mengatasi dan menyelesaikan semua rintangan dan hambatan secepat-cepatnya.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaEurasia Sangat Penting dan Strategis Bagi Indonesia Dari Perspektif Politik Luar Negeri Bebas-AktifSelanjutnyaTransaksi Janggal: Kemerosotan Birokrasi atau Kegagalan Institusi?

Lainnya di Ekonomi & Bisnis

Lihat semua
Berita Besar
Ekonomi & Bisnis

Berita Besar

15 Agustus 2026 · 3 menit baca

Perang AS vs Iran Mengguncang Ketahanan Energi, Perdagangan Dan Sistem Pangan Global
Analisis

Perang AS vs IranAS vs Iran Mengguncang Ketahanan Energi, Perdagangan Dan Sistem Pangan Global

25 Juli 2026 · 5 menit baca

Kalah Dalam Persaingan Geopolitik, AS Mengguncang Kerajaan Sutra dan Petrokimia China
Analisis

Kalah Dalam Persaingan Geopolitik, AS Mengguncang Kerajaan Sutra dan Petrokimia ChinaPetrokimia China

16 Juni 2026 · 5 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents