Ketika Gedung Putih Membongkar Kedok Agen Rahasianya Sendiri

Bagikan artikel ini
Mungkinkah agen intelijen yang bekerja pada instansi resmi pemerintahan dibongkar ke publik oleh pejabat pemerintahan itu sendiri? Dalam kasus Amerika Serikat, hal itu pernah terjadi. Dan orang yang bikin ulah dan jadi biang kerok nggak tanggung-tanggung, Kepala Staf Gedung Putih dan orang kepercayaan Presiden George W Bush sendiri.
Adalah Karl Rove inilah yang membocorkan identitas Valerie Plame Wilson, sebagai agen CIA, Kepala Divisi Kontra Proliferasi Senjata Nuklir CIA, kepada tiga orang wartawan. Robert Novak, Kolomnis Sindikasi berita, Mathew Cooper dari Time dan Judit Miller dari The New York Times. Belakangan yang dua pertama buka mulut bahwa penyingkapan identitas Valeri Plame merupakan ulah Robert Novak. Adapun Milliter tetap bungkam siapa sumbernya, meski dia harus masuk penjara.
Valerie Plame “dihukum” Gedung Putih karena menentang perintah Presiden Bush untuk memberi bukti palsu bahwa Presiden Saddam Hussein sedang membuat senjata pemusnah massal. Dan kebetulan pula, suami Valerie. Joe Wilson, diplomat senior dan pakar nuklir yang direkrut CIA  atas rekomendasi Valerie, pernah meneliti untuk mencari bukti kuat adanya upaya Irak mengimpor uranium dari Afrika , dan ternyata hasil temuanya menyimpulkan tidak benar kalau Irak punya senjata biologis, Dengan kata lain  itu cuma fiksi belaka.
Mungkin gambar 2 orang, orang berdiri dan pakaian
Maka Bush dan orang-orang dekatnya, termasuk Karl Rove, punya dendam politik sama Valerie dan suaminya Joe Wilson. Sehingga dilancarkanlah operasi yang maha aneh dalam sejarah intelijen Amerika. Pemerintah membongkra rahasia negara. Membongkar kedok agen rahasianya sendiri.
Kasus ini bergulir kali pertama saat Robert Novak dalam artikel yang ditulisnya pada 14 Juli 2003, membuka kedok Valerie Plame. Artikel ini tentu saja bikin marah CIA, karena itu sama saja membongkar identitas Valerie Plame sebagai agen lapangan. Dalam dunia intelijen, manakala rahasia tersingkap, sama saja dengan kiamat kecil.
Lebih celakanya lagi, artikel yang digulirkan Novak kemudian dilanjutkan oleh liputan Matthew Cooper dari Time dan Judith Milliter dari The New York Times.
Berdasarkan undang-undang AS, pembocoran nama agen CIA sama saja dengan melanggar hukum. Maka meskipun di AS kebebasan pers dijamin dan dilindungi, namun hukum di AS juga melindungi kerahasiaan negara. Sehingga jika ada kasus liputan membongkar agen rahasia yang berarti melanggar kerahasiaan negara, tinggal berpulang ke si wartawan dan media yang bersangkutan. Tetap mematuhi ketentuan hukum dan bungkam, atau tetap mengangkat berita meski dengan resiko kena pasal.
Kebetulan Novak dan Cooper meski sama-sama mengangkat bocoran informasi tersebut, keduanya kemudian kompromi bahwa bocoran informasi itu ulah Karl Rove. Adapun Milliter tetap bungkam, karena tetap setia pada kode etik jurnalisitk. Kalau sumber yang minta tak disebut namanya akhirnya disebutkan, wartawan nantinya nggak dipercaya lagi bisa memegang rahasia. Dan menurut Miller, itu berbahaya bagi kebebasan pers.
NYT's Judith Miller Carried Water for Worst USA Debacle Since Vietnam |  Observer
Persoalan Valeri Plame agen CIA itu, bertautan erat fengan kebijakan Presiden Bush pada 2003 untuk menyerbu Irak. Maka perlu tema untuk alasan buat menginvasi Irak. Apa itu? Irak di bawah kepemimpinan Saddam Hussein sedang membangun persenjataan pemusnah massal.
Dan uranium merupakan salah satu material untuk membuat senjata pemusnah massal. Maka mulailah dihembuskan kabar angin bahwa Irak mengimpor uranium dari Afrika. Kira-kira begitulah pidato Bush pada 28 Januari 2003, yang kelak disebut “16 kata pembawa maut.”
Nah kemudian cerita jadi menarik, ketika Joseph Wilson, suami Valerie Plame, mengeritik pidato Bush tersebut dalam sebuah artikel di The New York Times pada 6 Juli 2003. Dalam artikel itu, Wilson mengungkap data bahwa tak ada itu yang namanya Irak beli uranium dari Afrika. Dan Wilson mengaku sudah ke Afrika untuk mendapatkan data itu, dan hasilmya negatif. Hasil temuan Wilson sangat kredibel karena selain pakar nuklir, Wilson juga merupakan diplomat senior dan pernah jadi duta besar Jadi integritasnya tak diragukan.
Kalau melihat rentetan antara pidato Bush, lalu artikel Wilson, dan tulisa Novak, memang logis kalau kemudian mengarah pada kesimpulan bahwa dibongkarnya identitas Valerie, merupakan aksi balas dendam Gedung Putih terhadap artikel Wilson yang membantah argumentasi yang mendasari pidato Bush.
Joe Wilson, US diplomat who blew the whistle on Iraq War evidence, dies at  69
Dan penyingkapan Gedung Putih terhadap identitas Valerie Plame sebagai agen CIA kepada tiga wartawan tadi, dipandang oleh Joe Wilson sebagai balas dendam Gedung Putih kepada dirinya.
Belakangan, seturut dengan menyerahnya Novak dan Cooper dengan mengungkap jatidiri sang pembocor adalah Karl Rove, orang paling dekat Bush, maka muncul dua polemik yang melahirkan pro kontra.
Pada satu sisi, yang memihak pada tetap konsistensinya Miller tidak mengungkap siapa sumber pembocor, berpandangan bahwa dalam melindungi kebebasan pers terhadap identitas narasumber yang tak mau disebut namanya, wartawan harus memegang teguh komitmen menjaga rahasia. Karena ini merupakan soal komitmen dan saling percaya antara wartawan dan narasumber yang ingin anonim.
Namun pada sisi yang berbeda, yang membenarkan keputusan Novak dan Cooper untuk membuka kedok Karl Rove sebagai pembocor, lain lagi argumentasinya. Karl Rove dengan membuka kedok Valeri Plame sebagai agen CIA, merupakan pelanggaran hukum tentang kerahasiaan negara dan merupakan kejahatan. Dengan demikian, maka wartawan sah-sah saja membuka identitas rahasia sang narasumber, karena toh si narasumber sendiri sudah melanggar hukum dan melakukan tindak kejahatan membuka rahasia negar.
Hendrajit, pengkaji geopolitik, Global Future Institute
Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com