Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Sorot Tokoh

Kiprah Anwar TjokroaminotoAnwar Tjokroaminoto di Kewartawanan dan Kemiliteran

Rusman

Rusman·27 Mei 2024·5 menit baca

Bagikan
Kiprah Anwar Tjokroaminoto di Kewartawanan dan Kemiliteran

Umumnya kita, cuma tahu Anwar Tjokroaminoto adalah salah satu putra HOS.Tjokroaminoto, motor penggerak Sarekat Islam.

Padahal sejak 1927 ketika Pak Tjokro mengelola suratkabar Fajar Asia, Anwar sudah sering membantu ayahnya sebagai korektor. Waktu itu, Fajar Asia berkantor di Senen 117 Jakarta.

Namun Anwar merasa nggak bakat nulis. Padahal Pak Tjokro yang jeli melihat karakter atau bakat orang malah berpandangan sebaliknya. “Padahal kau itu bisa nulis lho. Ini dapat kulihat dari surat-suratmu yang selama ini kau kirimkan kepadaku. Dan juga laporan-laporan yang kau kirim ke sekretariat partai.”

Pak Tjokro nggak mengada-ada atau cuma menyenangkan putranya. Waktu terjadi gempa bumi di Gunung Seminung di Rinau, Lampung, Anwar mengirim laporan tertulis yang cukup informatif kepada ayahnya.

Sehingga oleh Pak Tjokro laporan itu diperbanyak dan dimuat di Harian Mestika, Yogyakarta. Maka mengalirlah sumbangan dari berbagai penjuru tanah air untuk para korban bencana alam.

Sekadar info. Suratkabar Mestika diasuh HOS Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim pada 1930, ketika keduanya bermukim di Yogyakarta.

Sampailah cerita saat Anwar yang sudah lebih percaya diri, kemudian melamar ke harian Pemandangan yang waktu itu pemimpin redaksinya adalah Mohammad Tabrani. Jurnalis lulusan Jerman. Kelak Tabrani merupakan salah satu.perintis pers perjuangan.

Tabrani setuju. Dan inilah kesepakannya. Anwar diterima sebagai korektor. Dan ini atas permintaan Anwar sendiri. Tapi juga boleh ikut nulis buat Pemandangan. Inipun usulan Anwar.

Tabrani menilai tulisan-tulisan Anwar oke juga. Sebegitu bagus tulisan tulisannya, dalam tempo setahun.Anwar dipromosi sebagai redaktur pertama. Istilah Belanda-nya waktu itu,eerste redakteur.

Sejak mulai dipercaya nulis di harian Pemandangan yang dipimpin Tabrani, Anwar tugasnya menulis pojok dan menyalin kawat-kawat berita dari bahasa Belanda ke dalam bahasa Indonesia. Kalau istilah sekarang kilasan berita. Dulu di era Anwar, semua berita dunia dilansir dari kantor berita Belanda, Aneta.

Anwar gabung dengan Pemandangan merupakan pengalaman jurnalistik amat berharga. Di Pemandangan selain Tabrani sebagai big bos, juga ada Mohammad Sin, Zen Zanibar dari Pagaralam, Soendoro Tirtosiwojo dan A Hamid. Juga Asa Bafagih dan Koesoemaningrat.

Setiap hari Anwar nulis dua atau tiga artikel. Kadang Tajuk Rencana, berita berita luar negeri yang ia tulis dalam gaya feature atau pojok.

Ulasan ulasan Anwar tentang berita berita luar negeri menurut wartawan senior Subagyo IN dalam bukunya Jagad Wartawan Indonesia, sangat ditunggu para pembaca.

Menurut cerita Subagyo, pernah suatu kali artikel telaah luar negeri yang selalu ditulis dengan inisial A.Tj yang siapa lagi kalau bukan Anwar Tjokroaminoto, ditegor pembaca-pembaca-nya lantaran artikel itu tidak muncul. Salah satunya, Djohan Johor. Itu waktu termasuk seorang pengusaha Indonesia yang cukup bonafit

Rupanya artikel artikel liputan luar negeri dianggap bermanfaat bagi para pedagang lantaran ramalan ramalannya ihwal perkembangan dunia dianggap cukup jitu.

Namun ada dimensi lain yang terungkap dalam episode Anwar di Pemandangan. Ternyata Anwar juga diminta bikin ulasan luar negeri di Persatuab Pemancar Radio Ketimuran yang dipimpin oleh Mr Soetardjo Kartohadikoesoemo dan Mr Soebardjo.

Semula ulasan ulasan luar negeri disampaikan oleh Mr Soemanang. Namun belakangan pekerjaan itu diserahkan kepada Anwar.

Menariknya, angle yang dipakai Anwar dalam ulasan ulasan luar negerinya selalu tidak pernah memihak Belanda. Bahkan saat Belanda sudah diserbu Jerman saat Perang Dunia II.

Tak heran kalau Belanda memandang Anwar sebagai musuh dan masuk target operasi Belanda. Waktu Pemandangan digrebeg Belanda, di laci meja Tabrani ada foto klise Mohammad Hoesni Thamrin. Namun ini cuma kebetulan saja. Karena Anwar lah yang diincer Belanda.

Saat oplaag Pemandangan makin meroket, beberapa harian terpaksa dilarang terbit saat Jepang menjajah Indonesia.

Namun beruntung buat Pemandangan boleh tetap terbit meski harus merger dengan Asia Raya yang dipimpin Soekardjo Wirdjopranoto. Tokoh sentral Partai Indonesia Raya.

Di sini episode Anwar sebagai jurnalis bukannya memudar. Malah makin moncer. Meski pemimpin redaksi adalah Winarno Hendronoto, namun karena kendala kesehatan, prakteknya pimpinan sehari-hari dilakukan oleh Anwar.

Di sinilah Anwar praktis tergabung dalam jejaring para jurnalis pergerakan kemerdekaan Indonesia. Di Asia Raya bergabung juga BM Diah,: kelak pemilik Harian Merdeka. Rosihan Anwar yang di Asia Raya malah redaktur luar negeri, kerjaan Anwar waktu masih di Pemandangan. Rosihan setelah pecah kongsi setelah sama sama di harian Merdeka:, kemudian merintis harian Pedoman.

Di Asia Raya selain jadi pelaksana tugas Penimpin Redaksi, juga menulis pojok. Sentilannya tajam tapi dengan bahasa yang halus dan penuh humor. Tapi pembaca tahu ada maksud di balik yang tersirat.

Praktis selama era Jepang, Anwar tercatat sebagai wartawan perang bersama Adam Malik. Keduanya pernah ikut latihan kemiliteran. Dididik sebagai koresponden perang. Selain itu Anwar dan Adam Malik Cs dihimpun dalam Perkumpulan Wartawan. Shimbun Kaisha Kai. Anwar jadi ketuanya. Menarik bukan?

Perjalanan nasib Anwar sebagai ketua Shimbun Kaisha Kai ini kelak amat berguna bagi Anwar. Berdasar pengalaman di kewartawanan dan ketentaraan, Presiden Sukarno pada awal kemerdekaan menugaskan Anwar bersama Mayor Jenderal Urip Sumoharjo membangun markas besar tentara. Sekaligus jurubicara angkatan bersenjata.

Sebenarnya ada banyak lagi penggalan-penggalan cerita ihwal Anwar di luar kiprahnya dalam kewartatawanan dan ketentaraan. Misalnya pertemuan selintas dengan seseorang yang kelak baru ia sadari kalau itu adalah Tan Malaka.

Sewaktu di hotel Merdeka, Solo diselenggaran Kongres pembentukan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), sontak Anwar melihat ada mobil berhenti di depan hotel. Dari dalam mobil keluarlah Rosihan Anwar.

“Bung Anwar, ini.pak Tan ada di dalam.” Tentu saja Anwar bingung siapa yang dimaksud Pak Tan. Waktu keluar mobil, muncullah wajah yang pernah ia lihat beberapa kali saat pendudukan Jepang dulu.

Rupanya bukan cuma Anwar yang familiar. Tan Malaka pun juga mengenali Anwar. Sontak bung Tan memeluk Anwar. “Mohon maaf bung Anwar. Waktu itu saya terpaksa tidak dapat berterus terang mengatakan siapa saya sesungguhnya.”

Waktu zaman Jepang, Tan berada di Banten:, menyamar sebagai mandor Romusha, bernama Ilyas Husein.

Anwar yang penyuka musik kroncong penggemar musik Hawaian ini, lahir pada 3 Mei 1909. Wafat pada Desember 1975. Dikaruniai 8 orang anak.

Hendrajit, wartawan senior

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaThomas Kuhn dan Kritik terhadap Cara Lama Melihat Ilmu PengetahuanSelanjutnyaOng Hok Ham

Lainnya di Sorot Tokoh

Lihat semua
Biografi
Sorot Tokoh

Biografi

28 Januari 2026 · 10 menit baca

James Danandjaya, Ensiklopedia Foklor Indonesia
Budaya

James DanandjayaJames Danandjaya, Ensiklopedia Foklor Indonesia

13 Desember 2025 · 6 menit baca

Yang Membuat dan Yang Dicatat
Sosial

Yang Membuat dan Yang Dicatat

31 Oktober 2025 · 4 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents