Membaca Nusantara dan Ibukota Negara dari Perspektif Spritual

Bagikan artikel ini

Sebuah Analogi

Dalam pelajaran ilmu tauhid, kata “HIDUP” terbagi dalam lima kelompok, antara lain yaitu:

  1. Al Muhyi (bakale urip) atau calon hidup;
  2. Al Hayyu (sing nguripi) atau yang menghidupi;
  3. Al Yuhyi (parane urip) atau arahnya hidup;
  4. Al Hayat (urip perlune opo) atau hidup perlunya apa;
  5. Al Ahya (dununge urip) atau sebenarnya hidup untuk apa.

Bahwa muhyi, hayyu dan yuhyi ialah sirruhu (atau rahasia-Nya). Inilah yang dimaksud dengan (buah) Khuldi diwaktu Adam berada di surga; sedangkan hayat dan ahya — disebut fana atau nyata. Ketika secara bersama-sama turun ke bumi namanya “halal dan haram,” itulah yang membuat diri (manusia) teraniaya karena syahwatnya.

Dari narasi di muka, ada dua hal yang bisa diambil: (1) selain Adam tidak memahami seluk beluk Khuldi, iblis ternyata lebih duluan tahu. Dulu, seandainya Adam mengerti rahasia Khuldi, mungkin bani Adam hidup abadi di surga yang serba halal lagi penuh kenikmatan; (2) juga, dari sejarah Khuldi dapat dipetik hikmah agar manusia memahami tentang asal-usulnya (dari surga). Maka sungguh celaka jika ada orang (karena perilakunya) memilih ke neraka. Inilah prolog singkat analogi atas judul di muka.

Kembali ke alam fana. Sesuai judul analogi ini, bahwa isu pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) dan (penamaan) Nusantara oleh Presiden Jokowi, terbukti menuai kontroversi seperti ketika halal-haram turun di dunia.

Persoalan IKN ialah, ada golongan melihat dari sisi “halal”, tak sedikit pula membahas dari perspektif “haram”. Yang jelas, pro-kontra tersebut membuat diri (rakyat) terbuang energinya baik materiil maupun immateriil.

Dalam ulasan ini, penulis coba menjaga jarak dari hiruk-pikuk opini dan menjauhi keramaian. Tak memihak manapun, penulis (mencoba) duduk di keheningan albab nun jauh di sana.

Dari materi ketauhidan khususnya bab mahabbah, jika bicara tentang albab — maka ada empat hal yang berkaitan dengan hati:
1) sadr atau sadrun, maknanya adalah hati bagian luar;
2) qalb atau kerap disebut kalbu, ini hati bagian dalam;
3) fuad atau afidah, artinya hati yang lebih dalam; dan
4) albab adalah hati yang paling dalam atau sering disebut sanubari, alias hati nurani. Itulah lapisan hati manusia.

Jika orang memakai hati dalam makna shard, qalb dan fuad, itu bisa baik, bisa juga buruk. Tetapi, kalau yang dimaksud adalah albab, maka sudah tentu baik dan pasti benar.

Kita bergeser ke analogi. Perihal muhyi, hayyu dan yuhyi — calon hidup, yang menghidupi dan arahnya hidup (IKN dan Nusantara) tak dibahas pada catatan ini kecuali sepintas untuk menyambung ulasan saja. Kenapa? Dalam tauhid, ketiganya itu sirruhu. Rahasia dan area-Nya.

Opini publik kerap hanya mengulas hayat = perlunya IKN apa, dan ahya = IKN (hidup) untuk apa.

Pro-kontra IKN dan Nusantara memang berkisar tentang perlunya apa serta sebenarnya untuk apa memindah ibu kota dan menamai Nusantara. Itu saja. Sedikit orang yang menguak hayyu alias siapa yang menghidupi (dibangun oleh/untuk siapa); dan yuhyi atau arah IKN akan kemana.

Apakah mau dibawa pada kejayaan negara seperti Nusantara I Sriwijaya dan Nusantara II Majapahit, atau justru kebalikannya? Silakan bertadabur dengan albab masing-masing.

(Ilmu) tauhid mengajarkan, bahwa muhyi, hayyu dan yuhyi —itulah Khuldi— adalah rahasia-Nya. Dalam kisah di langit, iblis ternyata lebih mengerti lebih dulu tentang Khuldi ketimbang Adam, sehingga bisa tertipu bujuk rayu iblis.

Nah, apabila sirruhu dianalogkan pada dunia fana (mungkin) hanya si penggagas ide, pemapar narasi serta arsitek IKN yang memahami muhyi, hayyu dan yuhyi meski dalam (cerita langit) iblis ternyata juga tahu tentang Khuldi dibanding Adam. Retorikanya: “Siapa iblis dan Adam bila di-(analogi)-kan dalam IKN?”

Mengakhiri analogi ini, dalam keheningan albab nun jauh di sana, sayup terdengar syair pujangga:
Aku berlindung kepada-Mu, Yaa Allah, karena tidak ada yang memperhatikan diriku kecuali Engkau;

Yaa Allah, aku berlindung dari godaan manusia, sebab banyak manusia yang suka menipu;

Aku berlindung kepada-Mu, Yaa Allah, dari godaan setan serta pikiran jahat, sebab aku dhoif lagi lemah;

Aku berlindung kepada-Mu, Yaa Allah, dari godaan jin terkutuk, karena banyak manusia yang suka membuat rakyat kecil bertambah bingung.

Nah, kata AKU dalam syair ini adalah RAKYAT, dan ia bisa bernama Paijo, John, Badrun, Lebong, atau siapa saja.

Inilah analogi singkat tentang isu IKN dan Nusantara dari perspektif spiritual. Tak ada maksud menggurui (dan tak ada niat menyakiti) siapapun terutama para pakar dan pihak yang berkompeten melainkan sekadar sharing pengetahuan dengan segenap keterbatasan waktu dan wawasan. Catatan analogi ini masih perlu koreksi.

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com