Mengenal Pak Mohamad Asruchin, Duta Besar RI untuk “Lintasan Jalur Sutra”

Bagikan artikel ini

Global Future Institute (GFI) dan Pusat Pengkajian Strategis Nusantara menyambut gembira terbitnya sebuah buku karya mantan Duta Besar Mohamad Asruchin yang amat menggugah terkait Jalur Sutra Cina.

Saya kira baru Pak As, begitu sapaan akrab beliau, sebagai diplomat senior Kemlu yang secara serius dan intens mendalami soal Jalur Sutra yang oleh pemerintah Cina telah ditetapkan sebagai Strategi Nasional, Silk Road Maritime Initiative, sebagai pedoman dan arahan strategis bagi pemerintah Cina dalan menjalin kerjasama luar negeri yang mengaitkan secara terintegrasi bidang ekonomi, perdagangan dan militer dengan konektivitas geografis. Untuk kemudian dituangkan menjadi program unggulan yaitu OBOR (One Belt One Road) dan BRI (Belt Road Initiative).

Menelisik sekilas rekam jejak Mohamad Asruchin, sepertinya Asruchin memang ditakdirkan berkiprah di ranah diplomasi dalam beberapa negara yang merupakan lintasan Jalur Sutra. Asia Selatan, Asia Tengah dan Cina.

Asrychin mulai gabung di Kemlu pada 1981. Pada 1985 meraih master dalam program studi Cina di University of Washington, Seattle, USA.

Bertugas di KBRI Beijing pada 1990-1994. KBRI Islamabad pada 1998-2002. KBRI Kabul pada 2004.

Setelah bertugas di Cina, Pakistan dan India, pak As ditunjuk sebagai Direktur Asia Selatan dan Tengah Kemlu pada 2004-2010.

Hingga kemudian nasib baik membawa pak As mengakhiri puncak karir diplomatnya sebagai Duta Besar RI untuk Uzbekistan merangkap Kazakhstan, Kyrgyztan dan Tajikistan pada 2010-2014.

Setelah pensiun dari korp diplomatik, bagi Pak As roda kehidupan tetap perputar. Ibarat sebuah buku, hanya ganti chapter atau beralih bab saja. Antara 2015 hingga 2019 sempat bergeser ke dunia akademik yang sebenarnya justru cinta pertamanya. Jadi dosen luar biasa untuk program studi Cina di Universitas Al-Azhar Indonesia.

Hingga kini suami dari Etty Nurjayawanti dan alumni Fakultas Sastra Cina UI ini tetap sehat dan produktif menulis artikel tentang Asia Selatan dan Asia Tengah serta masalah Cina. Subyek kajian yang mana pak As boleh dibilang klotokan.

Selain itu, secara pribadi saya merasa beruntung karena berkat Pusat Pengkajian Strategis Nusantara (PPSN) yang dimotori pak Sar Sardy dan pak Sutrimo Sumarlan, dapat berkenalan dan berkolaborasi dengan Pak As dalam pengkajian strategis terkait geopolitik dan masalah masalah internasional.

Sejak tahun lalu Pak As dan saya sama sama diminta Ketua Umum PPSN pak Sutrimo menjadi wakil ketua. Pak As menjadi wakil ketua bidang II untuk kajian strategis luar negeri, saya menjadi wakil ketua bidang I untuk kajian strategis dalam negeri.

Buku karya Mohamad Asruchin ini bertajuk Perjalanan Seorang Diplomat Menyusuri Jalur Sutra. Itulah sebab tiba-tiba saja ide di benak muncul untuk memberi judul catatan singkat ini: Duta Besar RI Untuk Lintasan Jalur Sutra.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com