Renungan Dari Samuel Ullman Tentang Generasi Keriput

Bagikan artikel ini

Ki Jenggung

USIA 68 tahun tak menjamin seseorang menjadi bijaksana. Bisa saja melompat dari cara berpikir kanak-kanak menjadi orang pikun, linglung. Pada manusia, semakin tua terjadi penurunan fungsi faal tubuh, renta, jompo. Pada satu bangsa, seharusnya kian tua kian dewasa, matang, dan tumbuh makmur perkasa. Tapi, bangsa itu bisa saja semakin tua malah semakin keriput, lungset, acakadut. Itu terjadi kalau manusia yang mengisinya sudah linglung di usia muda, tergerus rasa nasionalismenya, dan pasrah menjadi hamba sahaya bangsa lain dengan imbalan tidak seberapa, yaitu hidup enak sampai dua-tiga turunansaja.

Samuel Ullman (1840—1924) pernah menulis dalam prosa liriknya berjudul Youth, terjemahan bebasnya kurang lebih begini:

Muda itu bukan urusan umur, melainkan sikap pemikiran; bukan berarti pipi kemerahan, bibir merah merekah dan dengkul kuat, melainkan terletakpada kemauan, kualitas imajinasi, kekuatan emosional, kesegaran dan kebugarandari sumber paling dalam kehidupan.

Muda berarti penguasaan temperamental dari keberanian untuk mengatasi rasa malu, keengganan atas gairah. Pendeknya, suatu petualangan untuk menyenangi kesenangan hidup. Ini umumnya terjadi pada remaja 20 tahunan.

Umur bisa mengeriputkan kulit, tapi kehilangan antusiasme hidup akan mengeriputkan jiwa. Tak peduli usia Anda 60 atau 16 tahun, jangan pernah kehilangan gairah yang tak habis-habisnya untuk ingin tahu apa yang terjadi, dan menikmati permainan hidup serta kehidupan. Setiap hati hendaknya memasang antena untuk menerima pesan keindahan, harapan, kegembiraan, gairah, keberanian dan kekuatan dari alam semesta yang tak terbatas, maka Anda akan selalu muda.

Bila antena itu tak keluar, maka jiwa akand iselimuti salju pesimisme dan sinisme. Anda bisa tua pada usia 20 tahun, dan sebaliknya bila antena keluar memanjang menangkap sinyal optimisme tadi, maka ada harapan Anda akan mati muda pada usia 80 tahun.”

Kutipan tulisan ini disimpan Jenderal Douglas McArthur si Singa Pasifik dalam Perang Dunia II di dompetnya dan menjadi pendorong perjuangannya. Kutipan itu diletakkan di meja tulisnya, di Tokyo, dan 40 tahun kemudian menyebar di kalangan eksekutif Jepang, muda, apalagi yang tua. Gairah itu menjadi dapur pacu mereka untuk maju. Tahun 1990 sampai diadakan pertemuan besar pengagum Samuel Ullman.

Celakanya, negeri kita dipenuhi orang muda yang berjiwa keriput karena tak tahu gairah hidup perjuangan bangsanya. Para pendiri bangsa yang “berjiwa muda” menangkap sinyal kehidupan itu lalu merumuskan konsep Negara Kesatuan RI, dilengkapi dengan UUD 1945, dan Pancasila sebagai dasarnya.

Sayangnya, pengaruh asing yang membawa penyakit malas dan tak bergairah hidup seperti perjuangan para pendiri bangsa kita malah menguasai para pemimpin berikutnya. Makin tua bangsa kita makin renta pemimpinnya. Jiwa-jiwa keriput para pemimpin mudanya sudah renta untuk berjuang dan cukup menerima “rente”, “komisi”, “cukup terima pensiun” atau imbalan hidup enak kalau memuluskan penguasaan asing pada sumber daya yang dipunyai Indonesia.

Bayangkan bagaimana bangsa ini tidak renta dan buyutan, kalau seorang menteri yang masih muda, dijago-jagokan oleh presidennya, tiba-tiba berkata a.l.: “Kantongi dulu nasionalisme. Tidak ada tempat bagi nasionalisme dan kedaulatan ekonomi di tengah terang benderangnya arus globalisasi.”

Menyerah pada keadaan jelas bukan jiwa “orang muda”, melainkan orang tua renta yang pesimistik dan sinis terhadap kekuatan bangsa sendiri, kehilangan gairah hidup, dan “tidak mengantongi nasionalisme”, tapi malah mengantongi rente pembudakan diri pada kekuatan asing.

Kita khawatir di periode selanjutnya yang terpilih adalah orang-orang muda yang dikhawatirkan Samuel Ullman tadi, orang muda yang kehilangan gairah nasionalisme, renta dan buyutan menerima semua konsesi yang merugikan bangsanya.

Mereka yang lebih parah letoy-nya dibanding rezim sekarang ini. Ini sebuah keniscayaan, sebab “kekuatan muda” yang sudah berusia 200 tahun lebih, yaitu Amerika Serikat, masih bergairah dan tambah terangsang untuk mengeloni Indonesia yang cantik, kaya, sehingga akan berusaha sekuat tenaga untuk tetap mendekap erat janda muda molek Indonesia ini.

Lewat orang muda yang keriput jiwanya inilah mereka terus berusaha keras menghunjamkan lebih dalam pengaruhnya, satu hal yang mustahil dilakukannya terhadap Cina dan India. Dua negara sebaya dengan Indonesia ini lebih pintar, karena dikuasai orang-orang muda bergairah hidup. Mereka menolak World Trade Organization (WTO) dengan tekad ingin mengembangkan kekuatan ekonomi dan politiknya sendiri.

Orang muda seperti Deng Ziaoping tetap memegang cemeti “komunisme” guna menyabeti para pencoleng muda yang berjiwa keriput, tapi dia membuka kran investasi dengan kendali penuh Beijing. India ngotot dan terbukti. Orang muda berusia 200 tahun lebih tak mampu menembusnya hingga kedua negara ini maju pesat melebihi “patron” mereka di gerakan Nonblok dan semangat Asia-Afrika yaitu Indonesia. Padahal, waktu itu Ir Sukarno mengungkapkan dalam otobiografinya bahwa ia tidak antimodal asing. Tapi, semua modal asing harus di bawah kendali pemerintah Indonesia.

Pilih mana? Orang muda keriput atau orang tua bergairah? Jawablah lewat perjuangan mempertahankan nilai-nilai NKRI seperti telah dipatokkan oleh para bapak pendiri bangsa, bukan lewat konsep dari “perbatasanJakarta-Bogor” yang diduga keriput itu! *

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com