Surya Paloh dan Hary Tanoe Masih Satu Kubu dan Satu Kendali Komando (Jangan terpancing perpecahan semu keduanya di NASDEM)

Bagikan artikel ini

Hendrajit – Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)

Hary Tanoe Sudibyo. Pengusaha non pribumi satu ini memang fenomenal sejak era pasca Suharto. Malah orang bilang lebih berkuasa daripada orang orang Cendana. Bukan karena jadi “tukang tadah” tempat penitipan kekayaan Suharto. Melainkan karena pengusaha yang masih usia relatif muda ini memang punya jaringsan luas di overseas China maupun jaringan pebisnis Cina yang berbasis di Amerika Serikat.

Menggulirnya isu perpecahan antara Konglomerat media Surya Paloh dari Media Indonesia Group dan Hary Tanoe yang kebetulan juga Big bos media grup MNC, harus kita waspadai secara seksama dan cermat. Karena bisa jadi, perseteruan mereka berdua cuma pagelaran sandiwara yang sudah disusun terlebih dahulu skrip jalan cerita dan akhir dari ceritanya.

Sekarang coba saja kita cermati perkembangan berita selepas mundurnya Hary Tanoe dari Nasionalis Demokrat (Nasdem). Semua partai seakan berebut menjaring pengusaha yang baru baru ini mengundang maestro musik kondang David Foster kala menikahkan putrinya di Jakarta. Seakan elit elit partai ini tidak tahu atau tidak mau tahu siapa sesungguhnya Hary Tanoe. Karena yang diburu oleh bos-bos partai besar ini cuma uang dan aset bisnis yang masuk papan atas deretan orang terkaya di Indonesia versi Majalah Fortune.

Pagelaran yang dipertunjukkan Surya Paloh dan Hary Tanoe, hanya babak pembuka untuk menyusun formasi politik baru 2014 menurut versi kubu MNC-Media Indonesia. Kalau menelisik anatomi politik di balik jaringan NASDEM yang notabene tetap dimotori oleh kader kader Partai Golkar, sejatinya kelompok inti/nucleus politik Surya Paloh dan Hary Tanoe berasal dari jaringan perkawanan yang sama. Yang mana orang orangnya sama sama dekat baik dengan Surya Paloh maupun Hary Tanoe. Dan sama sama punya jaringan kedekatan dengan orang orang penting dari Cendana, khususnya dengan Bambang Trihatmojo/Bimantara Group dan Siti Hardiyanti Rukmana/Tutut.

Perseteruan hukum antara Hary Tanoe dan Tutut terkait kepemilikan Televisi Pendidikan Indonesia/TPI, yang membawa implikasi terjadinya perobahan formasi tim inti TPI menyusul perebutan kepemilikan TPI antar keduanya, diyakini oleh beberapa sumber dari lingkar dalam Cendana sebagai sekadar sandiwara belaka. Intinya, Hary Tanoe masuh tetap jaringan Cendana. Meski saat ini, Hary Tanoe lebih kuat dan punya nilai pluls dibanding Cendana, mengingat luasnya jaringan dan daya jangkau pengaruh Hary Tanoe baik di dalam maupun luar negeri.

Mundurnya Hary Tanoe dari Nasdem, harus dibaca sebagai manuver jaringan Cendana GRUP (Surya Paloh+Tanoe) untuk memperluas jaringan lintas partai yang memungkinkan NASDEM mendapat dukungan strategis dengan mengikat berbagai kepentingan elit elit partai papan tengah dan papan bawah di bawah orbit pengaruh Hary Tanoe dan Surya Paloh untuk satu derap langkah menghadapi Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2014. Pada tataran ini, bisa dimengerti jika Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Hanura dari awal sudah memberi isyarat ketertarikan yang begitu besar untuk menggaet Hary Tanoe.

Melihat tipologi Hary Tanoe sebagai seorang Baron atau seorang DON, rasa rasanya agenda pokoknya yang paling utama bukan merebut posisi nomor satu di sebuah partai politik. Melainkan merebut pengaruh dan daya jangkau kekuasaannya di lingkar dalam partai partai politik yang bersedia berada dalam orbit pengaruh kepentingan strategis dirinya.

Pada tataran ini, Hary Tanoe akan menjadi titik simpul baru dalam peran dirinya sebagai “Bandar” alias Juragan Besar yang bakal jadi penentu siapa yang layak dijagokan sebagai calon presiden versi GRUP mereka. Pada sisi lain, kubu Hatta Rajasa yang sekarang masih menjabat Menko Ekonomi pemerintahan SBY, yang berada dalam orbit pengaruh Pengusaha Arifin Panigoro dan para pengusaha yang berada dalam orbit Ginandjar Kartasasmita produk PP-10 zaman pemerintahan Suharto dan Wapres Sudharmono, akan merupakan grup politik tersendiri yang juga tidak kalah kuat dari segi basis ekonomi dan dukungan strategis media media papan atas di Indonesia. Selain kenyataan bahwa The Ginandjar Boys juga merupakan oligarki politik yang menguasai setidaknya beberapa partai politik seperti Golkar, PAN, PKS, dan beberapa elemen dari PPP yang dulunya berada dalam pengaruh dan pembinaan mantan Wakil Presiden Hamzah Haz.

Tak pelak lagi, kalau mau disederhanakan, Hary Tanoe dan Surya Paloh sejatinya masih satu kubu dan satu kendali komando. Cendana Grup yang sejatinya adalah jaringan GOLKAR LAMA versus jaringan Ginandjar Kartasasmita dan Hatta Rajasa yang merupakan produk kekuatan politik GOLKAR BARU pasca Munas Golkar Oktober 1998 yang memunculkan duet Akbar Tanjung dan Ginandjar Kartasasmita. Berikut satelit satelit politiknya yang tersebar di PAN, PPP, PKS dan bahkan juga di PDIP melalui keterlibatan aktif Arifin Panigoro di parta banteng tersebut, dan masih berlanjut sampai sekarang melalui Pramono Anung dan Ganjar Pranowo.

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com