Pentagon, Angkatan Darat dan CIA di Balik Pengembangan Senjata Biologi dan Kimia

Bagikan artikel ini

Salah satu yang mencuat dalam seminar GFI tentang NAMRU-2 AS Agustus lalu, Departemen Pertahanan AS (Pentagon), Angkatan Darat dan  dan CIA memainkan peran penting dalam  pengembangan senjata biologi dan bioterorisme. Baik di dalam negeri AS maupun di luar negeri. Seperti Vietnam, Kuba, Afghanistan, Irak dan Suriah.  

Baca juga: TOR Seminar GFI: Strategi Mencegah Dibukanya Kembali NAMRU-2 AS di Indonesia

NAMRU-2 AS yang beroperasi di Indonesia di sejak 1974 bawah payung kerjasama antara Departemen Kesehatan RI dan Angkatan Laut AS, ternyata berfungsi sebagai pengirim virus (virus transfer) dari Jakarta ke Los Alamos untuk pembuatan senjata biologis.

Sepak-terjang Departemen Pertahanan AS atau Pentagon terkait senjata biologis, bisa ditelisik melalui pengalaman buruk yang menimpa warga AS itu sendiri. Jerry D. Gray, dalam bukunya Deadly Mist menulis “Upaya AS Merusak Kesehatan Manusia, punya beberapa cerita yang cukup faktual dan mencekam. Bahwa warga AS telah menjadi korban eksperimen senjata biologi yang dikembangkan pemerintah AS. Aktor utama yang memainkan peran ini adalah Angkatan Darat AS”.

Misal, penumpang subway New York telah terekspos bakteri melalui pecahnya sebuah lampu. Laki-laki, perempuan dan anak-anak Savanah, Georgia dan Avon Park, Florida, terekspos pada ratusan ribu nyamuk, yang telah terinsfeksi dengue fever dan yellow fever yang telah ditanam oleh Angkatan Darat AS. Begitu juga kota San Francisco disemprot oleh aerosol bakteri yang dapat menimbulkan penyakit dan membunuh sejumlah korban tak bersalah.

Ketika serangan biologi ke San Francisco itu terkuak, lagi-lagi pelaku utamanya adalah Angkatan Darat AS. Sehingga para korban kemudian menuntut Angkatan Darat AS. Namun Angkatan Darat memberikan penjelasan bahwa tersebarnya infeksi bakteri yang menimbulkan pemyakit dan menbunuh banyak orang, sepenuhnya tak disengaja.

Ternyata warga AS bukan satu-satunya korban. Pada 1940-an, ketika Amerika masih dikuasai sentimen anti kulit hitam dan diskriminasi rasial masih sangat kuat, beberapa personil terntara AS berkulit hitam menjadi korban senjata biologi dan kimia yang mereka lakukan. Pada 1951, pemerintah AS mengekspos pelaut dan pelayar kulit hitam yang bekerja di Norfolk Naval Supply Center dengan agen-agen bakteri yang sangat menular.

Menurut Jerry Gray dalam bukunya tersebut di atas, pemerintah AS dengan sengaja menulari orang-orang kulit hitam itu, karena dipandang lebih layak untuk mengidap penyakit itu daripada orang kulit putih.

Di bandara udara nasional Washington DC, bakteri-bakteri juga disebarkan sehingga menimbulkan keracunan makanan dan keracunan darah.

Wijaya Lukita, mantan staf khusus Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (2004-2009), mengatakan di depan seminar terbatas GFI akhir Agustus lalu, bahwa meskipun sektor kesehatan berada dalam kewenangan Departemen Kesehatan di dalam negeri AS, namun ke luar negeri, bidang kesehatan berada dalam kewenangan Pentagon.

Ini tentu saja menarik. Mengapa sektor kesehatan berada dalam kendali Departemen Pertahanan AS di luar negeri? Bisa jadi hal ini disebabkan eratnya kaitan antara isu kesehatan dan isu strategis bidang pertahanan. Fakta berikut ini mungkin bisa memberi gambaran yang cukup terang-benderang apa yang melatarbelakanginya.

Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Senat Komite Urusan Veteran AS pada 1994, pemerintah AS mengakui bahwa “Departemen Pertahanan telah secara sengaja mengekspos personel militer dengan bahan-bahan berbahaya, bahkan seringkali secara rahasia”.

Komite yang sama juga mencatat bahwa “Departemen Pertahanan juga masih menjalankan pola eksposur bahan berbahaya dalam militer dan berlangsung hingga hari ini”.

Silahkan garis bawahi. Masih berlangsung hingga hari ini. Maka bisa disimpulkan bahwa dalam invasi militer As ke Afghanistan, Irak, dan juga Suriah, juga menggunakan senjata biologi dengan dalih untuk memerangi terorisme.

Singkat cerita, berdasarkan laporan yang dikeluarkan Senat Komite pada 1994, Departemen Pertahanan AS mengakui ulah mereka melakukan eksperimen biologi terhadap tentara Amerika atas persetujuan pemerintah AS.

Konstruksi cerita ini sungguh memperihatkan, dan menggambarkan paradoks di dalam kebijakan luar negeri dan pertahanan AS. Dalam kasus menjelang invasi AS ke Irak, Washington menuding Saddam Hussein telah memiliki Senjata Pemusnah Massal atau Weapon of Mass Desrruction. Namun pengembangan senjata biologi yang diakui Pentagon atas persetujuan pemerintah AS, sejatinya juga merupakan bagian dari jenis senjata pemusnah massal.

Masih terkait warga AS sebagai korban uji coba biologi, pada 1950 Komisi Energi Atom mendanai penelitian rahasia terhadap anak-anak di Seranald School di Massachusetts, yang mana mereka diberi makanan bubur yang dicampur dengan susu beradioaktif. Begitu juga mereka diberi suntikan beradioaktif.

Pada 1952 dan 1953, Angkatan Darat AS menjatuhkan bom aerosol dan mulai menyemprotkan agen-agen biologi kepada laki-laki, perempuan dan anak-anak di enam kota di Amerika dan Kanada. Hanya untuk mengetahui pola penyebaran dari senjata biologi dan kimia tersebut.

Ternyata kemudian, Angkatan Darat AS kemudian mencatat timbulnya berbagai penyakit saluran pernafasan menjelma jadi penyakit epidemi di semua kota tersebut.  

Pada 1953, selain Angkatan Darat, badan intelijen CIA pun terlibat dalam serangan senjata biologi dan kimia secara rahasia terhadap 239 kota di Amerika Serikat. Mereka menyebarkan berbagai macam zat kimia dan agen biologi dan bakteri, termasuk zinc cadmium sulfide yang beracun kepada orang-orang dewasa dan anak-anak Amerika.

Personel Angkatan Darat AS juga pernah menyerang seluruh kota kecil Clinton, Minneapolis, menyemprot anak-anak sekolah dari atap rumah dengan seng cadmium sulfat Waktu tertangkap basah, Angkatan Darat berkilah bahwa mereka sedang melakukan uji serangan udara. Padahal sejatinya ini merupakan serangan zat biologi yang dilakukan oleh CIA dan Departemen Pertahanan AS terhadap warga Amerika.

Maka, ketika Pentagon dan Angkatan Darat begitu besar perannya dalam penggunaan dan pengembangan senjata biologi dan kimia di dalam dan luar negri AS, maka keberadaan laboratorium penetian penyakit menular ala NAMRU-2 AS, dipastikan punya tali-temali dengan operasi militer dan intelijen AS. Sehingga harus dihentikan operasinya di Indonesia. Maupun di negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)   

Facebook Comments