Jokowi Mengikuti Sistem Ekonomi Neolib hingga Lubang Biawak?

Bagikan artikel ini

Abu Bakar Bamuzaham, Network Associate Global Future Institute (GFI)

Masih ingat dengan pidato kenegaraan Jokowi di depan ribuan pasang mata dalam perhelatan IMF-World Bank kemarin? Pidato Presiden Jokowi yang menggunakan analogi serial televisi Game of Thrones untuk gambarkan situasi ekonomi sekarang ini semakin menunjukkan bahwa sepertinya mantera ‘Sihir Firaun’ berupa sistem ekonomi neoliberalisme telah merasuki dengan parahnya ke dalam tubuh-tubuh anak bangsa ini.

Dalam pidatonya yang bermenit-menit itu, seolah Jokowi memberi sinyal agar “welcome to the capitalism and please go ahead with your aid, then we will accept it”. How come?

Bila kita telisik dari cara pandang diplomatik, apa yang disampaikan Jokowi melalui gambaran fiksi Game of Thrones, menerapkan perspektif liberalisme utopian alias utopis – memandang dunia ini akan bersifat berimbang dan equal – ketika semua negara telah menerapkan tatanan demokrasi.

Padahal pencetus paradigma ini adalah seorang Presiden AS (Woodrow Wilson) lewat fenomenanya membentuk Liga Bangsa-Bangsa (LBB). Namun pada akhirnya LBB itu hancur oleh AS sendiri tatkala PD II meletus dan AS bermain sebagai salah satu pemain kunci dalam perang walau sumbangsihnya minim.

Lantas apa setelah itu? AS tampil seakan sebagai “penyelamat dunia” dengan membuat konsensus Bretton Woods dan Marshall Plan-nya itu. Tau sendiri kan kemana kapal itu akan berlabuh?

Sistem Kapitalisme yang telah di balut oleh para tukang tenung Firaun dengan isu environment issues (climate change, global warming and so on) justru sistem yang telah menuntun kita untuk konsumtif dalam berkehidupan sehari-hari. Tau sendiri kan targetnya apa?

Tak lain target sang Firaun dengan tenung berupa global kapitalisme itu adalah menjadikan negeri ini sebagai ‘bak sampah’ tempat pembuangan barang-barang produksi mereka yang telah di branding sedemikian rupa. Alias membunuh secara perlahan produksi anak negeri sendiri. Banjir pasar impor dan akibatnya defisit neraca ekspor. Dan untuk menutup defisit impor itu, negara harus hutang lagi hutang lagi, jangan lupa bayar bunga ribawinya ya? Bisa jadi bunganya saja yang telah bertumpuk sejak era tahun 60an hingga hari ini telah melebihi hutang pokoknya. Sampai kapan? Entahlah.

Disamping itu, dalam diplomasi politik luar negeri, seringkali pula Jokowi gagal menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif yang tidak dibarengi political will dan political determination guna mengarungi percaturan politik internasional.

Padahal sejatinya di luar sana, suka tidak suka, mau tidak mau, politik internasional itu sejatinya bersifat anarkis, tidak ada hierarkis dalam sistem internasional. Karena itu setiap negara berhak menentukan kepentingan nasionalnya masing-masing walaupun memiliki dampak kepada negara-negara lain.

Lebih dari pada itu, seringkali juga Jokowi dalam pidato kenegaraan luar negeri, seperti yang kemarin ia sampaikan dihadapan peserta “Pemabuk Ribawi” Internasional di Bali, justru seolah mempersilahkan kekuatan kapitalisme global untuk berekspansi dan seolah negeri ini mengisyaratkan “long live to the Capitalism”. Bukan menentang tetapi justru menghimbau untuk bersikap Kooperatif kepada kapitalisme global. Padahal sistem ekonomi kapitalisme adalah sistem jahat yang menindas.

Ilustrasi ketimpangan kelas sosial antara kelas pemodal dan kelas pekerja/berdikarionline.com

Pelanggengan sistem ekonomi kapitalisme dibawah rezim Jokowi ini seakan menjadi keniscayaan yang diwariskan sejak era Suharto. Sistem ekonomi neoliberalisme yang dibawa oleh global capitalism sekonyong-konyong hendak ditancapkan lebih dalam ke tubuh ibu pertiwi ini. ‘Gemblung’. Itu namanya ‘Blandis’, kata Bung Karno ketika mengkritisi orang yg selalu merujuk ke Barat dalam segala hal.

Sementara itu, jika kembali mencermati pidato Jokowi yang rujukannya sekedar fiksi ala Game Of Thrones atau Thanos versus Avannger, mungkin akan lebih baik membedah buku fiksi Ghost Fleet, karya PW Singer.

Karena Ghost Fleet disusun oleh orang Internal CIA yang bisa jadi sedang menyiapkan prakondisi era masa depan. Dan disana telah jelas tertulis bahwa di masa depan akan terjadi pertarungan global antara kekuatan AS versus Cina. Dan Indonesia termasuk sebagai negara gagal.

Mengapa gagal? Karena kita telah kita mengadopsi dan menelan bulat-bulat nilai dan tata cara Barat, sedangkan kita tak tau bahwa pil yang kita telan ini adalah pil mematikan kita secara perlahan.

Sebagai penutup, sepertinya patut kita merenungi makna hadits Nabi Muhammad SAW berikut ini yang ditunjukan semata-semata agar jadi pengingat kita:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR Musim – Shahih)

Facebook Comments