Creative Destruction dalam Geopolitik (2)

Bagikan artikel ini
Telaah dan Solusi Konflik Ukraina
Adalah Joseph Alois Schumpeter, ekonom Austria, guru besar di Harvard University, penemu teori creative destruction.
Menurut Schumpeter, ada dua hal yang memantik revolusi ekonomi yakni kreativitas dan inovasi, dan ia menyebut dengan istilah creative destruction. Terobosan merusak.
Bahwa kreativitas dan inovasi akan mengubah struktur ekonomi dari dalam, menghancurkan model lama secara instan, dan secara instan pula menciptakan model ekonomi baru. Itu pokok-pokok pikiran Schumpeter di bidang ekonomi.
Poin yang bisa dipetik dalam ulasan singkat di atas, jika masuk pada situasi tertentu (kontinjensi) alias disrupsi, contohnya, jika masih menggunakan pola lama maka ekonomi akan ‘menurun’ lagi cenderung kolaps. Dengan resep creative destruction, diharapkan ekonomi kembali dinamis. Bergerak lagi. WFH di masa pandemi misalnya, itu ujud terobosan kecil ala Schumpeter —hal tidak linier— guna menjaga produktivitas. Atau kebijakan counter cyclical ala Sri Mulyani yang mampu menekan laju inflasi. Itu juga bentuk terobosan merusak. Sebab, jika memakai pola lama di masa pandemi — selain sangat rawan, Covid-19 juga kian menjangkit serta merebak.
Kenapa creative destruction? dibutuhkan?
Tak lain, karena faktor disrupsi. Hal yang tercerabut dari akarnya, ataupun situasi dimana pergerakan sesuatu tak lagi linier. Maka perlu kreativitas dan inovasi. Jadi, kalau timbul disrupsi, harus dihadapi dengan creative destruction alias terobosan merusak melalui dua pilar: kreativitas dan inovasi.
Sekarang mari analogikan teori Schumpeter ke ranah geopolitik, misalnya konflik Ukraina beserta disrupsi geopolitik yang muncul di permukaan.
Bahwa hegemoni Barat dalam hal ini AS dan UE, tidak lagi linier. Ada perubahan radikal, tak lazim, dan turunnya hegemoni Barat saat konflik meletus di Ukraina, bahkan kalau mau jujur, turunnya hegemoni Barat justru diawali sebelum konflik Ukraina. Entah akibat trade war, atau karena kalah dalam perang melawan Taliban setelah bertempur selama 20 tahun (2001 – 2021) di Afghanistan dan lain-lain.
Jika dilihat dari tahapan ‘siklus perubahan kekuasaan’, ia sudah sampai pada tahap krisis ekonomi, kecuali empat negara (Bulgaria, Estonia, Inggris dan Italia) yang telah masuk fase terbawah dalam siklus, yakni perubahan kekuasaan. PM-nya meminta dan diminta mundur.
Dalam prakiraan geopolitik, bila tanpa creative destruction yang cerdas, pas dan komprehensif — para elit kekuasaan di UE tinggal menunggu saat (jatuh)-nya tiba, termasuk Paman Sam. Semacam isu Sri Lanka. Bukan faktor kalah dalam peperangan, tetapi ambruknya rezim akibat ‘ditawur’ oleh rakyatnya sendiri.
Agaknya, Dunia Barat mengabaikan konsepsi energy security yaitu jaminan pasokan energi pada bangsa dan negaranya. Ya. Barat melupakan 4A dalam energy security. Lupa akan accessability, abai terhadap acceptability, avordability dan availability. Soal 4A dalam energy secirity nanti diulas pada catatan tersendiri.
Nah, keabaian atas energy security nantinya bisa mengubah kondisi negara-negara Barat seperti Sri Lanka. Ada amuk massa karena multi-krisis tak kunjung usai, dan nyaris tidak ada lagi trust terhadap para elit politik dan pimpinannya. Sekali lagi, tanpa creative destruction dalam geopolitik, Paman Sam dan UE berpotensi runtuh seperti Uni Soviet. Pecah berkeping-keping, menjadi sejarah masa lalu di panggung hegemoni global.
Lantas, apa creative destruction dalam geopolitik yang direkomendasikan?
(Bersambung ke-3)
M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)
Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com