Indonesia, Rusia dan KTT G-20

Bagikan artikel ini

Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)

Pengantar Redaksi: Dalam rangka menyambut penyelenggaraan KTT G20 di St Petersburg, Rusia tanggal 5 – 6 September 2013, kami menghadirkan kembali tulisan editorial The Global Review Quarterly Edisi # 3, Mei 2013. Berikut paparannya.

Saatnya Indonesia berpaling ke Rusia. Apakah hal ini sebuah gagasan yang strategis? Sejarah hubungan bilateral kedua negara membuktikan bahwa keputusan Presiden Sukarno untuk membangun kerjasama strategis kedua negara tersebut telah menguntungkan kepentingan strategis Indonesia di bidang ekonomi dan militer saat itu.

Bahkan kala itu Indonesia sempat tercatat sebagai salah satu negara terkuat dalam bidang kemiliteran di kawasan Asia Tenggara. Sehingga tidak berlebihan jika Indonesia kala itu dipandang sebagai refleksi “Kekuatan Ketiga” di tengah-tengah kian memanasnya Perang Dingin antara Amerika-NATO versus Uni Soviet-Cina pada 1950-1970.

Sebelum era Khrushchev, Moskow masih menganut doktrin Andrei Zhdanov  yang menegaskan bahwa semua kekuatan politik yang tidak termasuk kubu negara-negara berhaluan sosialis dipandang sebagai bagian integral dari kubu negara-negara kapitalis dan imperialis. Alhasil dalam kerangka doktrin Zhdanov tersebut, Indonesia tidak bisa dimasukkan sebagai salah satu negara dalam kerangka persekutuan strategis dengan Moskow. Sehingga kerjasama strategis antara Indonesia dan Rusia atas dasar kesetaraan dan saling menguntungkan, belum bisa dilaksanakan secara maksimal.

Namun sejak 1956, ketika Nikita Khrushchev  mengambil alih kepemimpinan Uni Soviet dari tangan Joseph Stalin, kerjasama kedua negara mulai bisa dirintis menuju arah yang lebih positif. Karena sejak 1956, Khrushchev kemudian memodifikasi doktrin Zhdanov sehingga politik luar negerinya lebih moderrat dan membuka kerjasama strategis dengan negara-negara berkembang yang berhaluan nasionalis non komunis seperti Indonesia, India, dan sebagainya. Atas dasar komitmen bersama untuk melawan kolonialisme dan imperialisme. Yang tentunya pada perkembangannya secara alami bersatu dalam satu fron melawan skema kapitalisme global Amerika Serikat dan Eropa Barat, yang kelak menyatu dalam blok ekonomi G-7.

Inilah momentum Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno untuk mulai membuka era baru kerjasama strategis Indoensia-Rusia di bidang ekonomi, militer dan teknologi.

Prakarsa Indonesia dan negara-negara berkembang menggalang kerjasama melalui Konferensi Asia-Afrika April 1955 di Bandung dan Konferensi Tingkat Tinggi Non-Blok pada 1961 di Beograd-Yugoslavia atas dasar komitmen melawan imperialisme dan kolonialisme, mendorong Khrushchev memandang Indonesia sebagai sekutu strategis meskipun bukan termasuk negara berhaluan komunis. Maka setelah melalui proses yang berliku, pada 1959 pemerintah Indonesia dan DPR setuju meratifikasi bantuan pinjaman dari Rusia sebesar 100 juta dolar AS.

Yang menarik dari klausul perjanjian tersebut, bantuan ini dimaksudkan agar Indonesia bisa meningkatkan pertumbuhan ekonominya sehingga Indonesia bisa mengembalikan dana pinjamannya dalam kurun waktu 12 tahun. Lepas dari jumlah nominal bantuan keuangan tersebut, fakta ini telah menempatkan Indonesia sebagai penerima bantuan terbesar negara beruang merah tersebut di kawasan Asia Tenggara. Bahkan lebih besar daripada bantuan keuangan Rusia kepada Vietnam Utara yang kala itu jelas-jelas merupakan sekutu dan satelit Rusia.  Dengan begitu, Indonesia berhasil memanfaatkan bantuan finansial tersebut untuk pembangunan di berbagai sektor strategis baik militer, bangunan fisik maupun infrastruktur.

Hal ini membuktikan bahwa Indonesia punya daya tawar tinggi di mata Rusia ketika itu, dan tentunyatidak lepas dari penjabaran politik luar negeri bebas dan aktif yang diterapkan oleh Bung Karno secara imajinatif.  Sehingga kedekatan dengan Rusia tidak menjadikan Indonesia sebagai negara satelitnya, melainkan justru diabdikan untuk melayani kepentingan strategis Indonesia yang kala sedang berjuang melawan kolonialisme dan imperialisme khususnya di Asia Tenggara.

Sekelumit kisah tersebut menarik mengingat kala itu Indonesia sedang dikepung oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya seperti Inggris, Australia dan Belanda. Maupun negara-negara tetangga seperti Malaysia yang dijadikan sebagai ujung tombak kepentingan Inggris membendung pengaruh Indonesia di kawasan Asia Tenggara.

Seperti halnya dengan Cina, kerjasama Indonesia dan Rusia ketika itu, telah menempatkan Indonesia sebagai negara yang mandiri dan kuat di kawasan Asia Tenggara, maupun di belahan dunia lainnya.

Konferensi Tingkat Tinggi G-20 di St Petersburg Rusia, kiranya bisa jadi inspirasi untuk mengulang kembali kerjasama strategis Indonesa-Rusia baik secara bilateral maupun pada lingkup forum yang lebih luas seperti ASEAN Regional Forum (ARF), APEC, East Asia Community maupun G-20.  Seraya memetakan dan mengidentifikasi berbagai agenda strategis yang kiranya bisa dikembangkan sebagai basis kerjasama kedua negara di masa depan.

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com