Pemilu Medan Tempur 2024

Bagikan artikel ini

Telaah Out the Box Berbasis Geopolitik

Sangat tajamnya perseteruan antara Paslon PS-GRR versus AMIN di lapangan dibanding rivalitasnya dengan GAMA, misalnya, atau persaingan antara GAMA versus AMIN, janganlah dikaji dari sudut pandang lokal semata. Bingung membacanya. Pakai eagle view. Tatapan elang. Lemparkan ‘asumsi nakal’ sebagai objek untuk dibedah, lantas ditelaah lewat pisau geopolitik global. Niscaya akan terlihat benang merahnya meskipun samar.

Asumsi nakalnya, apabila PS-GRR itu kepanjangan tangan (proxy) kepentingan China, sedang AMIN itu proxy-nya Amerika Serikat (AS). Maka isu rivalitas tajam antara PS-GRR dan AMIN mulai terurai. Mulai terlihat. Sekali lagi, ini sebatas asumsi. Teori yang dianggap benar.

Indonesia hari ini, selama masih menggunakan UUD 2002 —hasil Amandemen UUD 1945 (1999-2002)— maka negeri tercinta ini hanyalah ‘medan tempur’ bagi kepentingan para adidaya (terutama China dan AS) dalam koridor pertikaian hegemoni serta rebutan SDA yang berlimpah. Retorikanya, “Negeri mana di dunia ini yang bisa lepas dari pengaruh China dan AS?”

Di bolak-balik bagaimana pun, selama sistem Pemilunya berbasis UUD 2002, Indonesia masih tetap menjadi medan kurusetra para adidaya. Tidak berdaulat. Lagi-lagi, ini juga asumsi nakal seperti asumsi awal tadi. Hal itu perlu disadari bersama.

Di tengah rivalitas tajam antara PS-GRR melawan AMIN, yang diuntungkan justru GAMA. Kenapa? GAMA itu mirip sekoci melintas santai pada dua arus sungai (tempuran) yang beradu kuat via masing-masing cara. PS-GRR melalui modus gimik dan ‘power‘. AMIN lewat silent operation dan playing victim. Atau, kebalikannya? PS-GRR melalui playing victim, dan AMIN pakai gimik.

Dalam konteks copras-capres, GAMA siap menampung massa AMIN pada satu sisi, namun di sisi lain, secara histori-struktural, GAMA memiliki irisan kuat dengan PS-GRR itu sendiri. Kedudukan GAMA dalam Pilpres 2024 sebenarnya pada ‘posisi karaoke’. Kanan-kiri OK. Nyirik. Menang alhamdulillah, kalahnya pun — Paslon GAMA masih bisa menjadi Menteri, atau Menko. Akan tetapi, telaah kecil ini cuma berbasis asumsi. Bukan teori.

Lagi-lagi, itupun kalau ada Pilpres. Ah, ini juga kesimpulan nakal!

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com