The Death of Conventional Journalism (4)

Bagikan artikel ini

Adji Subela, Wartawan Senior dan Pemerhati Sosial-Budaya

Kemampuan publik untuk menyelenggarakan jaring komunikasinya sendiri, sebenarnya merupakan reaksi atas “otoritarian” jurnalisme konvensional yang sekarang di tanah air dikuasai para pemodal kuat. Publik sudah mampu menjawab segala dikte yang selama ini mereka terima. Asas hak jawab di masa lalu tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan publik. Dan harapan itu kini ada pada satu bentuk mekanisme komunikasi baru yang sangat revolusioner: internet.

Dikabarkan, pada tahun 2008 saja terdapat 70 juta blog serta sekitar 150 juta website yang masing-masing memiliki pengikutnya. Dengan kemudahan akses, para pengikut dapat migrasi ke blog atau website lainnya dengan cepat. Oleh karena itu sisi paradoksal yang muncul adalah begitu mudah orang berkomunikasi di masa sekarang akan tetapi tidak mudah satu pihak (terutama pemerintah) untuk menyemaikan informasinya secara massal, tepat sasaran, kepada publik seperti 20 tahun silam. Terlalu luas medan yang harus dihadapi.

Hidup di era globalisasi, kata para cendekiawan membuat orang semakin tribal (Naisbitt, 1984), oleh sebab itulah orang kemudian membentuk komunitas untuk mekanisme perlindungan sekaligus wadah kepentingan masing-masing.

Komunitas-komunitas di dunia maya ini ibaratnya adalah sel-sel dalam tubuh yang terus hidup dan berkembang, bahkan berregenerasi. Mereka terekat dalam sel-sel komunitasnya tersebut, sekaligus dapat dengan mudah menciptakan sendiri, bermutasi atau bermigrasi.
Inilah jawaban atas jurnalisme konvensional. Serta, segalanya itu membentuk perangai-sifat baru masyarakat. Para sosiolog tentu dapat menjawabnya bagaimana gadget itu membawa perubahan sosial. Paling tidak sudah lama para cendekiawan meletakkan dasar teori perubahan itu.

Kita pun lalu teringat pada teori perubahan sosial cendekiawan muslim abad pertengahan, Ibnu Khaldun. Ia mengatakan, sistem sosial manusia berubah mengikut kemampuannya berfikir, keadaan muka bumi sekitar mereka, pengaruh iklim, makanan, emosi, serta jiwa manusia itu sendiri. Ia berpendapat institusi masyarakat berkembang mengikuti tahapnya dengan tertib bermula dengan tahap primitif, pemilikan, diikuti tahap peradaban dan kemakmuran sebelum tahap kemunduran.

P.A. Sorokin dalam “Social and Cultural Dynamics”, menyebut peradaban modern adalah peradaban yang rapuh dan tidak lama lagi akan runtuh dan selanjutnya berubah menjadi kebudayaan ideasional yang baru. Dalam suatu perubahan yang terpenting adalah tentang proses sosial yang saling berkaitan. Sorokin juga memberikan pengertian tentang proses sosial yaitu sebuah perubahan subyek tertentu dalam perjalanan waktu, entah itu perubahan tempatnya dalam ruang atau modifikasi aspek kuantitatif atau kualitatifnya.

Talcott Parsons merumuskan teori fungsional tentang perubahan. Parsons menganalogikan perubahan sosial pada masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada makhluk hidup. Komponen utama pemikiran Parsons adalah adanya proses diferensiasi. Parsons berasumsi bahwa setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang berbeda berdasarkan strukturnya maupun berdasarkan makna fungsionalnya bagi masyarakat yang lebih luas. Ketika masyarakat berubah, umumnya masyarakat tersebut akan tumbuh dengan kemampuan yang lebih baik untuk menanggulangi permasalahan hidupnya. Dapat dikatakan Parsons termasuk dalam golongan yang memandang optimis sebuah proses perubahan sosial.

Analogi Parson bahwa perubahan sosial pada masyarakat ibarat pertumbuhan makhluk hidup perlu digarisbawahi. Fritjof Capra mencoba merumuskan sejumlah pendapat pendahulunya yang mengatakan bahwa dasar ilmu pengetahuan adalah biologi, berbeda dengan kaum Cartesian yang menganggap fisika sebagai dasarnya. Ketika ilmu fisika kemudian menghasilkan modernitas yang tidak bisa memperbarui dirinya, malah merusak, maka prinsip biologi dikatakannya memiliki kekuatan hidup, satu jaringan yang hidup, bertumbuh dan mampu memperbaiki sendiri seperti dicontohkan makhluk hidup.

Di bidang komunikasi, Capra mengutip Humberto Maturana yang menyebutkan bahwa kita selama ini memaknai komunikasi dalam istilah-istilah semantik, pertukaran informasi yang membawa makna tertentu. Ia melihat, komunikasi pada dasarnya kordinasi perilaku yang
didapat secara instingtif serta hasil belajar yang ia sebut linguistik. Maturana menyebut lingusitik belum sebagai bahasa, tapi memiliki ciri sama yaitu bahwa koordinasi perilaku dapat dicapai dengan jenis interaksi berbeda. Dalam kenyataan, katanya, koordinasi perilaku tidak ditentukan oleh makna tetapi dinamika-dinamika pasangan struktural.

Oleh sebab itu kita tidak perlu risau akan pengusaan media massa oleh para pemodal kuat sekaligus politisi karena “masyarakat bertumbuh dan berkembang” sesuai amatan para sosiolog di atas.

Barangkali secara kasar, dapatlah kita harapkan mekanisme itu berlaku pula pada pola komunikasi kelompok-kelompok, komunitas, atau cluster di masa “posmo” sekarang yang bersifat independen tapi juga cair, dapat migrasi secara mudah. Migrasi inilah yang diharapkan membentuk satu mata rantai jaring komunikasi kini.

Untuk skala besarnya persoalannya adalah bagaimana mengordinasikan cluster-cluster ini sehingga dapat menulis “partitur” besar untuk satu “orkestrasi besar” dalam bingkai NKRI. Kita sudah punya modal besar warisan para pendiri republik berupa Pancasila, UUD 1945 (asli). Pekerjaan rumah besar kita bersama adalah bagaimana membangun konstruksinya.
(SELESAI)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com