AS Tidak Lagi Didukung Sekutu NATO-nya di Timur Tengah

Bagikan artikel ini

Artikel ini bisa dianggap sebagai kelanjutan dari tulisan penulis sebelumnya, Hendarajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute,  yang menyinggung tidak dimungkinkannya perang konvensional terjadi antara AS vs Iran.

Baca:

Serangan AS ke Iran, Bakal Menyulut Api Peperangan ke Seluruh Kawasan Timur-Tengah

 

Hal ini mengingat posisi AS di Timur Tengah kian terosilasi menyusul sikap sejumlah negara dan sekutu NATO-nya tidak sehaluan dengan garis kebikajan Washington.

Meski AS tidak berani melancarakan perang konvensional melawan Iran, namun bukan berarti perang tidak akan terjadi. Justru pola “serangan” yang dilancarkan AS terhadap Iran bisa dalam bentuk yang lain. Memang, dari satu aspek dengan kemajuan teknologi militer saat ini, perang gaya Irak sudah usang. Pentagon sendiri tidak kehabisan akal menggunakan pola-pola jahat intervensi lainnya yang diarahkan kepada Iran.

Diantara pola yang digunakan AS menyerang Iran adalah dengan melancarakan serangan terbatas kepada wilayah tertentu yang ditargetkan, memberikan dukungan bersama Sekutu terhadap kelompok paramiliter teroris, termasuk penggunakan senjata nuklir taktis. Selain itu AS juga melakukan destabilisasi politik dan revolusi warna, serangan bendera palsu dan ancaman militer, sabotase, penyitaan aset keuangan, sanksi ekonomi yang luas, peperangan elektromagnetik dan iklim, teknik modifikasi lingkungan (ENMOD), perang cyber, perang kimia dan biologis.

Namun, yang menjadi masalah utama bagi Washington keberadaan Markas Besar Komando Sentral AS yang terletak di wilayah musuh. Inilah yang sebelumnya penulis singgung bahwa di internal AS sendiri terjadi krisi dalam struktur komando.

USCENTCOM adalah Komando Sentral AS untuk semua operasi di wilayah Timur Tengah yang membentang dari Afghanistan hingga Afrika Utara. Ini adalah semacam komando tempur yang paling penting dari struktur Komando Terpadu. Badan ini memimpin dan mengkoordinasikan beberapa perang Timur Tengah termasuk Afghanistan (2001), Irak (2003), termasuk Suriah.

Dalam hal perang melawan Iran, operasi di Timur Tengah akan dikoordinasikan oleh Komando Sentral AS dengan markas besar di Tampa, Florida, sebagai penghubung permanen dengan markas komando depan di Qatar.

Pada akhir Juni 2019, setelah Iran menembak jatuh pesawat tak berawak AS Presiden Trump “membatalkan serangan militer yang direncanakan dengan cepat di Iran” sementara mengisyaratkan dalam tweet-nya bahwa “setiap serangan oleh Iran pada apa pun akan disambut Amerika dengan kekuatan besar dan luar biasa.”

Komando Sentral AS mengkonfirmasi penyebaran pesawat tempur F-22 Angkatan Udara AS ke pangkalan udara al-Udeid di Qatar, yang dimaksudkan untuk “mempertahankan pasukan dan kepentingan Amerika” di wilayah tersebut melawan Iran.

“Pangkalan ini secara teknis milik Qatar menjadi tuan rumah bagi markas besar Komando Sentral AS.” Dengan 11.000 personel militer AS, pangkalan ini digambarkan sebagai “salah satu operasi militer AS yang paling bertahan lama dan paling strategis di planet ini“. Al-Udeid juga menjadi markas Sayap Ekspedisi Udara 379 milik Angkatan Udara AS, yang dianggap sebagai “komando udara luar negeri AS yang paling vital”.

Apa yang gagal disadari oleh analis media dan militer adalah bahwa markas besar Timur Tengah AS di pangkalan militer al-Udeid yang dekat dengan Doha secara de facto terletak di wilayah musuh.

Sejak perpecahan Mei 2017 dari Dewan Kerjasama Teluk (GCC) Qatar telah menjadi sekutu setia Iran dan Turki (yang juga merupakan sekutu Iran). Meskipun keduanya tidak memiliki perjanjian kerja sama militer “resmi” dengan Iran, mereka berbagi kepemilikan bersama dengan Iran terkait ladang gas maritim terbesar di seluruh dunia.

Perpecahan GCC telah menyebabkan pergeseran aliansi militer: Pada Mei 2017 Arab Saudi memblokir satu-satunya perbatasan darat Qatar. Pada gilirannya, Arab Saudi dan UEA telah memblokir transportasi udara serta pengiriman maritim komersial ke Doha.

Apa yang sedang berlangsung sejak Mei 2017 adalah pergeseran rute perdagangan Qatar dengan pembentukan perjanjian bilateral dengan Iran, Turki dan juga Pakistan. Dalam hal ini, Rusia, Iran, dan Qatar menyediakan lebih dari setengah cadangan gas dunia yang dikenal. Lihat peta di bawah ini!

Pangkalan Al-Udeid di dekat Doha adalah pangkalan militer terbesar Amerika di Timur Tengah. Pada gilirannya, Turki kini telah mendirikan fasilitas militernya sendiri di Qatar. Turki bukan lagi sekutu AS. Pasukan proksi Turki di Suriah sebaliknya memerangi milisi yang didukung AS.

Turki sekarang disejajarkan dengan Rusia dan Iran. Ankara sekarang telah mengkonfirmasi akan mengakuisisi sistem pertahanan udara rudal S-400 Rusia sehingga membutuhkan kerja sama militer dengan Moskow.

Qatar dipenuhi dengan pengusaha Iran, personel keamanan dan pakar di industri minyak dan gas (yang kemungkinan juga memiliki jejaring dengan intelijen Iran), Belum lagi kehadiran personel Rusia dan Cina.

Jadi, AS sepertinya sudah ditinggalkan oleh sekutu-sekutunya di Timur Tengah. Hal ini menyiratkan pula bahwa kebijakan Washington sudah dipandang tidak sesuai dengan kepentinga mereka di kawasan. Bahkan ditinggalkannya AS oleh sejumlah sekutu setianya di kawasan menunjukkan kegagalan Trump dalam “mengawal” kebijakan yang dibangun AS yang sejak pemerintahan George Walker Bush hingga Barack Obama.

Sudarto Murtaufiq, Peneliti Senior Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments